Monday, May 29, 2023

Cerita Melahirkan : Surat Cinta Untuk Gavin Kinawa Parviz

Update blog terakhir adalah ketika trimester pertama hamil Gavin, rencananya pengen rutin nulis supaya perjalanan kehamilan terabadikan dengan baik dan infonya bisa berguna buat para ibu yang sedang menanti buah hatinya. Namun, seiring berjalannya waktu, unfortunately ada hal-hal dari kehamilan ini yang bikin saya gelisah dan nggak berani untuk nulis-nulis lagi, takut kalau endingya tidak sesuai dengan harapan saya.

Alhamdulillah, setelah 2 tahun hiatus akhirnya saya kembaliiiii. Sekarang udah legaaaaa dan amat sangat bersyukur






Surat ini untuk Gavin Kinawa Parviz. Elang putih yang bijaksana dan penuh keberuntungan. Semoga kamu menjadi pribadi yang baik, panjang umur, sehat, kuat, shaleh, pintar, baik hati seperti doa ayah dan ibun yang tersemat pada namamu, ya Nak.

Every pregnancy and maternity have its own story. Seperti cerita kehamilan dan melahirkan mu yang sangat super duperrrr "spesial", nggak mungkin terlupakan.

  "God's perfect timing" Tuhan akan memberikan sesuatu pada saat yang pas menurut-Nya, bukan pas menurut kita sebagai hambanya. Ketika kehilangan Kakak Kinawa di bukan agustus 2018, ibun akhirnya iklas bahwa mungkin menurut Allah ibun belum waktunya untuk punya Baby lagi. Allah kasi kesempatan ibun buat lebih dekat pada Nya, memperbaiki diri, plus bonus bisa pergi umroh dan business trip ke tempat tempat yang tadinya cuma ada di dalam mimpi, dan tentunya quality time travelling sama Ayah dan Kakak G

 Kemudian di penghujung 2019 kebahagiaan itu datang. Ada mahluk mungil dititipkan Allah di perut ibun. Rasanya bahagiaaaaaa banget, sekaligus juga takut. Takut kejadian miscarriage kayak yang sebelumnya. Makanya di kehamilan ini ibun jaga diri banget. Nggak mau capek-capek, nggak pergi dinas dan menghindari stres. Pokoknya berusaha HIDUP SANTUY dan PERBANYAK REBAHAN. Alhamdulillahnya, memang sudah di set waktunya sama Allah, pas banget juga ada pergantian kabinet dan memasuki akhir tahun. Jadi load kerjaan sudah tinggal sedikit.  Sambil nunggu penunjukan mentri dan struktur baru ternyata banyak magabut nya 😁😁. Bahkan ibun sampai ngisi waktu dengan ikut workshop membuat lilin dari minyak jelantah di WeWork.

 Oh iya, kabar baik lagi adalah MRT dari sta Lebak Bulus sampai Bundaran HI sudah beroperasi. Jadi ibun nyaman pergi ke kantor, gak desek2an bak pepes di KRL, bisa duduk manis di MRT yang AC nya super dingin dan semua stasiun ada lift nya. LOVE bangeeeet.

Jujur, selama kehamilan kamu ibun sangat PARNO aka khawatir. Ada perasaan kayak ketakutan. Takut akan banyak hal seperti gimana nanti kalo kehamilannya bermasalah, gimana kalo ternyata harus kehilangan lagi. Setiap perut mules bawaannya langsung deg deg an, apakah ini mau pupup atau mules mau melahirkan. Tiap kali ke toilet juga ngecek underwear takut tiba tiba ada darah segar yang bisa bikin keguguran. Sering ibun ngerasa sedih dan nangis nggak jelas. Mungkin itu pengaruh hormon bumil juga ya. Mau nya dipelukin terus sama ayah daddy... huhuhu

 


Hal lain adalah tensi ibun yang tiba tiba jadi tinggi. Bahkan pernah sampai 160/90. Jadinya ibun harus minum obat hipertensi, pengencer darah dan dirujuk ke dokter fetomaternal. Bahkan sampai 3 dokter ibun datengin. Kisah pemeriksaan dokter feto udah ibun ceritain di blog ibun ya.

 Gavin sayang, saat ini sedang ada Pandemi Covid 19. Coba kamu googling deh. Ini pandemi global di seluruh dunia, cepat menular dan belum ada obatnya. Jadi, sama pemerintah orang-orang disuru stay #dirumahaja. Semua mall, kantor, sekolah, tempat wisata, dan tempat keramaian juga ditutup. Ada yang namanya PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) dimana buat pergi ke luar rumah atau luar kota harus melewati banyak protokol kesehatan dan keselamatan. 

Bahkan acara-acara pun pada batal atau diundur. Mungkin bagi sebagian orang yang kerja di sektor informal, ini adalah bencana. Karena banyak orang yang kena PHK, unpaid, bahkan perusahaannya tutup. Tapi bagi ibun ada "blessing" dari kondisi ini, yaitu menjelang masuk kehamilan 8 bulan, ibun bisa Work from Home (WfH). Ibun ga perlu capek ke kantor. Naik motor, sambung MRT, sambung ojek online, belum lagi kalau harus jemput Kakak G di rumah umi, badan rasanya remekkkk. WfH ibun bisa kerja sambil meeting dari kasur pake daster. Alhamdulillah nyaman. Kantor ayah juga WfH. Sekolah mbak gendhis juga remote alias school from home. Jadi selama 2 bulan lebih kita di rumah aja nggak kemana-mana kecuali belanja makanan sama ke RS.

 




Sejujurnya, ibun bahagia, karena ditemenin terus sama ayah dan mbak G. Apalagi bersamaan dengan bulan ramadhan. Orang-orang dianjurkan supaya beribadah di rumah aja, nggak ke masjid. Alhamdulillah jadinya tiap hari 30 hari full bisa buka puasa sekeluarga di rumah. (sesuatu yang dulunya cuma impian ibun, yaitu bisa buka puasa di rumah tiap hari sama ayah dan mbak G - maklum, ayah lembur melulu, atau kadang pas bedug ibun masih berjuang di jalanan buat pulang). 

Selain itu, impian lain yang jadi kenyataan adalah bisa shalat tarawih di rumah bertiga, ayah yang jadi imamnya. MasyaAllah. Ada sekitar dua minggu dimana ayah tidurnya pisah kamar, karena kepalanya pusing dan batuk batuk. Khawatir ibun dan kakak G ketularan. Saat itu ibun bangga karena ayah shalatnya rajin, bahkan bangunin ibun buat shalat malam. (Meskipun sekarang, setelah kamu lahir dan kembali kerja di kantor, ayah udah jarang shalat lagi. Sedih.... sampai kapan ya dia begitu, baginya pekerjaan adalah segalanya, shalat nggak bisa bikin kaya) Gavin sayang, pesan ibun... jangan tinggalkan shalat ya nak. Karena shalat mengingatkan kita untuk selalu bersyukur dan berterima kasih atas nikmat Allah, serta tempat kita meminta dan berdoa ketika kita ada masalah atau mengingunkan sesuatu. Selalu kembalikan kepada Allah, apapun masalah yang terjadi pada dirimu ya Nak.


  

Kenapa ibun bilang begitu? Karena adanya Gavin Kinawa Parviz di dunia ini adalah mukjizat Allah SWT. Pas waktu ibun lagi sedih-sedihnya takut kehilangan kamu, Abi bilang sama ibun. "Tenang aja, Jangan takut, kalau memang Allah sudah berkehendak, mau kasih anak ke kamu, ya Allah pasti kasih. Anak kamu akan jadi milik kamu. Minta baik baik sama Allah". Itu salah satu ucapan yang bikin ibun tenang sih. Kalau Allah memang menghendaki, Kun Fa Yakun, ibun akan bisa melahirkan dengan lancar dan selamat, serta anak ibun lahir dengan sehat tidak kekurangan suatu apapun

 Gavin Kinawa Parfiz, ketika kamu masih di perut, ibun dan ayah sangat khawatir akan keadaan kamu. Awalnya ibun berfikir kalau Bu Dokter yang merawat ibun terlalu lebay. Kok dia worried banget sama kehamilan ibun. Dan ibun merasa "ditakut-takutin" serta terkadang penyampaiannya kurang menenangkan. Ibun lalu dirujuk ke dokter fetomaternal, diminta membenahi asupan makanan, banyak makan protein, minum susu, diet garam, diresepkan penurun tensi dan pengencer darah. Bu Dokter bilang berat badan baby di bawah umur kehamilannya, dia takut ada efek dari hipertensi ibun ke perkembangan janin. Dan ibun seperti denial "emang iya ya?" "Apa nggak salah hitung umur kehamilan ya?" "Apa kalau minum obat tensi dan pengencer darah nggak akan berdampak ke bayi nya ya?" (pada akhirnya ibun ga berani minum obat karena takut nanti baby nya kenapa-kenapa.. helloooow pengencer darah dan obat tensi, itu bukannya obat keras ya? Emang aman untuk bumil?) Ditebus sih obatnya, cuma akhirnya nggak ibun minum.   *toyor kepala sendiri,  plis jangan diikutin ya, karena pada akhirnya ibun menyesal gak ikut saran bu dokter, dan baru minum obatnya hanya mulai 2 bulan sebelum lahiran.  

Hal itu ternyata membuat penyumbatan di saluran darah yang terhubung dengan baby semakin menyempit jadioksigen dan nutrisi yang didapatkan baby semakin sedikit. Akibatnya,  berat baby di dalam perut makin ketinggalan. Padahal dokternya udah bilang dari awal-awal kehamilan, kalau berat bayi harus dikejar di awal, karena semakin tua usia kehamilan akan semakin sulit. Eh tapi ibun ngeyel nggak percaya. Ternyata bener dong, di ujung ujung kehamilan, berat baby semakin susah naiknya. Ibun baru menyadari kalau sejak awal terbyata bu dokter bukan mau nakut-nakutin tapi dia sangat realistis. Mungkin sebelumnya beliau udah pernah menghandle pasien-pasien dengan riwayat kesehatan seperti ibun, jadi mengantisipasi akan seperti apa kondisinya. Baru deh ibun insyaf, ibun minum semua obat yang dikasi dan lakukan semua yang disarankan bu dokter, demi baby di perut ibun tetap sehat dan bisa lahir dengan selamat.

 Ke-kepo-an ibun mengenai hipertensi dalam kehamilan, pengaruh obat, kondisi janin dan lain-lain kemudian ibun cari jawabannya via mbah google. Dan itu adalah sebuah kebodohan karena semakin browsing-browsing malah jawaban yang di dapat semakin menakutkan. Ibun jadi nggak bisa tidur, mimpi buruk, khawatir

 berlebihan dan makin sering menangis. Ibun jadi mempertanyakan keadaan ibun sendiri, apakah ibun bisa melahirkan dengan selamat? Apakah ibun akan tetap hidup? Apakah tekanan darah ibun akan turun? Apakah kondisi baby di perut baik baik saja? Apakah dia akan lahir dengan sehat?. Belum lagi ketika hasil pemeriksaan darah keluar dan banyak yang ada bintang-bintangnya (yang berarti angkanya tidak sesuai dengan kondisi normal dan harus diwaspadai) Ibun mendapati angka leukosit tinggi, lalu ibun browsing dan keluarlah artikel artikel menyeramkan. Sampai akhirnya ibun memutuskan untuk STOP BROWSING! karena hanya akan bikin stress. Leave it to Allah, berdoa yang buanyaaaaaak.

Dokter ahli fetomaternal ke 2 yang ibun kunjungi adalah dr Eva Roria Silalahi. Sebelumnya ibun sudah periksa ke dokter fetomaternal di RSPI Pondok Indah, namun obgyn yang merawat ibun masih belum sreg dengan hasil pemeriksaan dokter tersebut, jadi kita cari second opinion dokter yang lebih senior. Ketika memeriksa, raut wajah bu dokter terlihat sangat serius dan berfikir, pertanda ada sesuatu. Rasanya ibun pengen langsung banyak nanya "kenapa? Ada apa? Gimana keadaannya?" tapi urung karena jujur ibun takut gak siap denger jawabannya. Jadi akhirnya diem aja sampai pemeriksaannya selesai. 

Setelahnya dokter menjelaskan bahwa berat janin lebih kecil dari usia kehamilannya, kalau dilihat semua organ dalam kondisi baik, namun aliran darah seperti ada "notching". Beliau belum bisa menjelaskan lebih jauh lagi, dan saya diminta kembali cek setelah nanti usia kehamilan diatas 28 minggu agar lebih clear. Namun kalimat penutup beliau yang kemudian bikin ibun makin drop "....tapi pasti ada sesuatu....". Duh, rasanya mau nangis di tempat!

 Ketika akan kontrol kehamilan selanjutnya, eh ternyata negara korona menyerang. Praktis semua kegiatan menjadi terbatas geraknya, dan makin ngeri ke rumah sakit. Ibun WA dokternya, beliau suggest awal April aja kontrol lagi.

 Ternyata, kembali menjejakkan kaki di RS untuk periksa baby pada saat korona adalah SEMENAKUTKAN ITU loh Gav. Semua dokter dan perawat memakai Alat Pelindung Diri. Bentuknya seperti jas hujan, yang dilengkapi haircap, masker, sarung tangan, sepatu boots sama kacamata. Kebayang deh betapa gerahnya berpakaian seperti itu, salut untuk semua dokter dan tenaga medis.



 

Selain itu, setiap masuk RS ada protokolnya, yaitu harus pakai masker, cuci tangan, dan di cek suhu tubuh. Untuk tempat duduk dan antrian pun dibuat "jaga jarak aman" biasanya antar tempat duduk diseling satu bangku kosong yang diberi tanda atau bahkan dikasih tali agar tidak ada orang yang duduk disitu. Dikit-dikit pake hand sanitiser. Selain itu, berdiri sebelahan sama orang lain aja rasanya serem. Saking parno nya nih, kalau terpaksa bersinggungan sama orang ibun pasti tahan napas, sampe orangnya pergi.

Hasil kontrol di week 32 ternyata berat janin masih tetap ketinggalan. Hiks hiks. Kemudian ibun diminta menjalani suntik pematangan paru yang bertujuan untuk menguatkan paru-paru janin di kandungan, sehingga jika terpaksa harus dikeluarkan lebih cepat, insyaAllah paru paru bayi sudah cukup kuat

 Well, denger kata "suntik" ibun langsung merinding disco. Ternyata suntik pematangan paru ini adalah the series, alias gak cuma sekali tapi terdiri dari 4 seri dengan jeda 12 jam. Jadi selama 2 hari berturut-turut setiap jam 9 pagi dan 9 malam ibun di suntik. Suntiknya kirain di tangan, eh ternyata di PANTAT! Rasanya kayak apa? Haduuuh nyossss banget. MONANGISSSS huhuhu. Ada cerita lucu, ketika mau suntik ke 2, susternya kaget "bu, ini jarumnya gede banget, mau diganti nggak?" Eyalaaaaaah pantesan aja kemaren mantepppp bener tusukannya, sampe pagi pegelnya nggak ilang. Ternyata dipakein jarum babon, trus ibun buru buru minta ganti aja pake jarum baby.

 


Selanjurnya, ibun diminta kembali konsul ke dokter fetomaternal. Karena dokter Eva Roria Silalahi selama Covid nggak praktek, lalu disarankan periksa ke dokter R Aditya Kusuma SpOg di RSPI Bintaro. Wew ternyata emang RS ini ruangannya bagus banget ya kayak hotel. Biasa di Hermina, pindah kesini langsung betah hahahhaha. Sebelum periksa ibun udah grogiiiii tingkat dewa. Sampe sampe tekanan darahnya melonjak 160/90. MasyaAllah. Ibun berdoa terus supaya hasil pemeriksaan bagus, dan baby dalam keadaan sehat.

First impression ibun ke pak dokter adalah dokternya masih muda dan penuh semangat. Pas ibun dan ayah masuk ruangan disambut dengan ramah sekali. Setelah memberikan surat rujukan dan menjelaskan kondisi kehamilan yang dirasa, ibun pun mulai diperiksa.

 Ada satu momen menegangkan ketika ibun di usg. Yaitu posisi Gavin di dalam perut yanh entah meringkel atau terlalu kebawah jadi pak dokternya susah buat ukur dan cek. Beliau sampai berulangkali istigfar karena nggak dapet posisi yang pas bikin ibun makin down. Jantung rasanya udah jatoh sampe ke lutut. Selesai periksa beliau kasih tau kalau memang berat babynya dibawah normal. Pertumbuhannya tidak sesuai dengan usia kehamilannya. Mungkin akibat ada plasental dysfunction jadi tekanan darahnya tinggi. Terus ibun tanya, "kasus seperti ini ada banyak nggak sih Dok?" yang bikin ibun lega, dokternya bilang "banyak.....".  "Terus saya harus gimana dok?" Ibun nanya sampe mau nangis, its like... i dont know what gonna happen next. Apakah nanti akan terjadi sesuatu? Apakah

 ibun bisa melahirkan bayi dengan sehat dan selamat? Di otak udah langsung terpikir hal hal buruk. Jawabnya : "SHALAT 5 WAKTU, MINTA SAMA ALLAH". Ashiaaaapppp, dok! Tapi ya memang bener, janin ada nya di dalam, nggak keliatan. Apa yang terjadi di dalam sana nggak ada yang tau dan nggak bisa tersentuh.

 



Tibalah di hari Sabtu, 2 May 2020. Usia kehamilan masuk di week 36. Pada pemeriksaan minggu sebelumnya, bu dokter udah wanti-wanti. Berat baby harus naik, at least sampe standart berat badan minimal, yaitu 2,5kg. Sedangkan di usia week 35 kemarin, berat janin di angka 2,2kg. Maka dari itu, selama seminggu ibun makan seperti orang portugal (porsi tukang gali 😄), buanyak... plus minum susu protein dan malamnya nyemil eskrim. Sukses naik berat badan 3kg dalam 6 hari, hopefully adik bayi di dalam perut juga naik beratnya.

 Begitu di usg... jeng jeng jeng... muka bu dokter berubah jadi sangat serius. Beliau pun mengulang hitungan berat janin nya. Sambil menghela nafas panjang, beliau pun bilang "kita terminate ya". "Hah Maksudnya dok?" Di kepala ibun yang langsung terbayang dari kata "terminate" adalah digugurkan. ASLI SYOKKK BANGET, DAN GAK MAU YA TUHAN TOLONG SAYA INGIN BAYI INI TERUS HIDUP. "Iya, ini harus dikeluarkan bayi nya, karena kalau kita tunggu satu minggu lagi belum tentu berat badannya akan naik, dan takutnya terjadi apa-apa,  karena sama sekali berat badannya nggak nambah. Ngapain dikeluarkan kalau kondisinya nggak bagus. Jadi harus cepat ambil tindakan". "Kapan dok?" "Kalau bisa besok, ya besok kita operasi". DUARRR!!! LEMESSSS RASANYA.

 Setelah dijelaskan lebih detail mengenai kondisi janin dan tindakan apa yang harus dilakukan serta bagaimana prosedurnya, plan operasi SC besok terpaksa harus dimundurkan, karena ibun masih mengkonsumsi obat pengencer darah (Aspilet). Kenapa harus minum obat tersebut, bisa dibaca di link ini https://www.alodokter.com/waspadai-darah-kental-saat-hamil. Selain itu, ibun juga harus kontrol ke dokter spesialis penyakit dalam karena ada Hipertensi Dalam Kehamilan. 

Setiap momen periksa tensi adalah menjadi momen ter-tegang dalam hidup! Harus duduk manis, atur napas, bahkan ke toilet dulu sebelum di tensi, biar nilai tensi-nya nggak tinggi. Kadang trik ini berhasil, tapi sering juga gagal. Karena kalo tensi nya semakin tinggi, bisa berbahaya buat ibu dan bayi nya. Takut bangeeeet ibun tuh beneran deh! Berdoa terus terusannn 🙏🙏. Selanjutnya, harus konsultasi dulu ke dokter anastesi dan melakukan PCR tes serta ronsen thorax. Waktu ketika ibun melahirkan Gavin adalah ketika kondisi pandemi sedang serem seremnya, dan PSBB sedang total totalnya. Jadi beneran JUJUR SE-PARNO ITU AKUTUUU.

Dari RS Citra Ananda (tempat ibun konsul sama dokter Diah) langsung deh meluncur ke RS Hermina Ciputat. Pilih melahirkan di hermina adalah karena lebih dekat dari rumah dan yang paling penting adalah bisa pakai asuransi dari kantor Ayah Daddy meskipun nggak Full. Setelah koordinasi, hasilnya adalah dijadwalkan ibun untuk konsul dokter penyakit dalam dan anastesi di hari senin 4 May 2020, lalu operasi di hari selasa 5 May 2020. Dokter Diah mewanti-wanti banget untuk selalu aware sama pergerakan janin. Minimal satu jam satu kali bergerak. Jadi ibun bener-bener worry dan selalu memastikan bahwa adek bayi di perut bergerak. Kalo pas diem lama, ibun elus elus perut dan ajak ngomong terus. Begitu cintanya Ibun sama kamu, Nak. Ibun pengen kamu bisa lahir ke dunia dengan sehat. I LOVE YOU SOOOO MUCH EVEN BEFORE YOU WERE BORN, Gavin ❤❤

 

Konsul dengan kedua dokter spesialis di Hermina lantai 5 sungguh bikin ciut. Terutama karena pagi RAME BANGET, MEN!

Apalagi situasi pandemi seperti ini, kita nggak tau kan ya disitu orang-orang pada sakit apa aja, dan khawatir ada OTG, makanya sebisa mungkin cari tempat duduk yang rada sepi-an. Hasil konsultasi dokter alhamdulillah bagus. Karena tensi yang masih tinggi, ibun harus minum obat penurun tensi dalam dosis double menjelang operasi. Harapannya adalah supaya pas tindakan tensinya dalam kondisi normal. Tidak putus putus ibun berdoa semoga proses kelahiran dilancarkan dan dimudahkan. Yang terpenting adalah Ibun dan baby di perut diberikan kesehatan dan keselamatan

Hari yang dinantikan pun tiba, ternyata jadwal operasi dimundurkan menjadi tanggal 6 May 2020 jam 13.00. Dari jam 8 pagi ibun sudah datang ke rumah sakit dengan perasaan campur aduk nggak karuan. Nangis melulu karena takut. Bahkan ibun juga khawatir akan keadaan ibun sendiri, apakah ibun bisa melahirkan dengan selamat? Apakah tekanan darah ibun akan turun? Apakah kondisi baby di perut baik baik saja? Apakah dia akan lahir dengan sehat? Sebelum berangkat juga minta doa sama uti, akung, umi, abi. Bismillah... ibarat kalo peperangan, ini tuh udah di medan perang, i have no choice, harus maju terus! Ga ada pilihan untuk mundur atau ngumpet 😅

Tensi diperiksa, alhamdulillah MAGIC! KUASA ALLAH yang sebelumnya selalu diatas 130 bahkan sampai hampir 170, menjelang persalinan ada di angka normal yaitu 110. Ibun pun merasa lebih legaaaa. Selain itu, ibun selalu dipantau pakai alat CTG. Yaitu sebuah mesin yang berguna untuk memantau pergerakan dan detak jantung janin. Ada satu moment dimana pas di CTG bunyi detak jantung bayi nggak ketemu-ketemu. Duh, jantung ibun rasanya kayak mau copot, air mata udah langsung ngembeng. Dalam hati udah teriak-teriak "Jangan sampe ya Allah...jangan sampeee...." ibun masih trauma, flashback pas kehilangan kakak Kinawa. "Masih ada kan suster?" Ibun tanya. "Ada bu, cuma ini jauh... adeknya ngumpet" alhamdulillah ibun legaaaaa

 


Jam 12.00 ibun masuk ke ruang observasi. Ganti baju persiapan operasi. Moment melahirkan tiap anak emang beda-beda ya ceritanya. Waktu Mbak gendhis alhamdulillah bisa lahiran normal, sekarang melahirkan Gavin adalah pengalaman pertama ibun melahirkan melalui operasi sesar. Ayah cuma bisa nemenin sampai sini aja. Ibun berusaha menyemangati diri sendiri "bisa...bisa.. insyaAllah bisaaaaa". "Hai Riska.." tiba-tiba dokter diah sudah datang. "Sudah siap? Bismillah ya... nanti saya akan ada sayatan di bagian sini (kata bu dokter sambil nunjukin perut bagian bawah)...". Ibun langsung memotong "Waduh dok, udah dok, jangan diceritain" Ibun keki.

 

Masuk ruang operasi, ibun disambut oleh dokter anastasi yang kemarin ketemu. Beliau nyalain lagu biar ga tegang kayaknya. Karena ibun yakin wajah ibun pasti udah super kaku kayak kanebo. Lalu dokter meminta supaya ibun duduk dengan perut menekuk ke dalam. "Kurang nekuk bu, seperti kepiting..." Dan... njussssss... disuntik, sakit bangetttt. Tapi abis gitu ibun udah nggak ngerasain apa-apa. Ibun cuma lihat dipasangin alat di lengan kanan seperti pompa, kayaknya sih untuk memantau tensi. Sepertinya sekitar 6 orang tenaga medis lain yang juga membantu.

 Kalau denger cerita dari orang orang yang juga melahirkan secara SC, mereka bilang bisa lihat proses melahirkannya melalui pantulan dari semacam lampu diatas kita. Tapi dalam kasus ibun, karena nggak pake kacamata jadinya burem ga keliatan apa-apa. Selain itu, ketika proses operasi meskipun katanya yang dibius bagian bawah doang... tapi ibun ngerasa kayak lagi nge-flyyyyy hahaha. Awalnya masih bisa mendengar jelas percakapan di ruang operasi, tapi habis itu sepertinya ibun tidurrrrrrr. Bisa jadi memang efek obat bius plus ditambah kemaren semaleman ga bisa tidur. Baru ngeh kebangun lagi pas baby nya sudah keluar, terdengar suara tangis bayi, lalu ditaro di dada ibun. Saat itu yang mampu terucap hanya "Alhamdulillaaahhh Ya Allah" Gavin Kinawa Parfiz telah lahir ke dunia dengan sehat dan lengkap, tanpa kurang suatu apapun. ALLAHU AKBAR. Amin YRA.

 



Hari hari awal di hidupmu.

Gavin Kinawa Parfiz. Elang putih yang Bijaksana dan penuh keberuntungan.

 

Karena pandemi, yang boleh nemenin di RS hanya satu orang, dan gak boleh ada yang jenguk. Jadilah ayah si suami siaga, yang gercep dan standby menemani ibun.

 After effect dari operasi yang ibun rasakan adalah badan menggigil sampai gigi gemerutuk. Selain itu, luka jahitan yang wakwaooo semriwing, membuat bergerak sedikit aja  rasanya susah bener. Belum lagi adegan roda kasur yang nyangkut di pintu lift pas ibun mau dibawa ke kamar, agak lumayan lama juga tuh sampe akhirnya bisa keluar. Takut banget liftnya bergerak atau justru kejepit, gak mungkin banget kan turun dari kasur.

 


Alhamdulillah, salah satu berkah pandemi adalah nggak ada tamu yang datang menjenguk. Ibun dan ayah bisa full istirahat dan tidurrrrrr sambil nonton K Drama.

 Besok paginya, setelah selesai di observasi, ibun bisa ketemu langsung dengan cinta nya ibun. Bayi yang selama ini ada di perut, yang selalu jadi sumber doa doa ibun setiap hari. Suster datang membawa box berisikan hadiah dari Tuhan. Bayi mungil yang kuat dan menggemaskan. Alhamdulillah... hasil observasi bagus, dan nggak perlu masuk nicu atau perina. SubhanAllah AllahuAkbar. Rasanya masih nggak percayaaaaaaa

Setelah tujuh tahun berselang, lalu kembali ke moment punya newborn dan menyusui lagi... SE HAPPY ITUUUU. Sayang sekali, ASI ibun belum juga keluar, tapi tetap berusaha di stimulasi. Karena kondisi BBLR, ibun mau adik bayi bisa mengejar berat badannya, dan merelakan sepenuh hati agar sementara dibantu susu formula dulu. 

 Melahirkan mu ibun jadi punya pengalaman baru. Operasi SC ini adalah operasi besar pertama ibun dalam hidup. Jangan ditanya nyalinya ciut kayak apa 😄😄. After surgery nya juga rasanya...hmm... WOW bingit.  belum bisa bergerak, badan setengah kebawah yang awalnya kebas perlahan berasa nyut nyut. Untungnya ada obat pereda nyeri yang dimasukkan lewat infus dan anus. Combo!. Bersyukur banget, recovery nya lumayan cepet. Ibun heran juga, 2 hari setelah operasi udah bisa berdiri dan jalan ke toilet sendiri.

Hari berikutnya, baby sudah boleh rooming in dibawa ke kamar. Jujur ibun masih merasa gak percaya, masih kayak mimpi. Ya ampuuuuuuun jadi ini bayi gemesin yang kemarin ada di peruttttt dan bolak balik bikin ibun worried. Saking khawatirnya ibun sampai nazar kalau  baby nggak masuk perina, ibun akan langsung bersedekah tertentu. Kamu imut banget, dan insyaAllah selalu sehat ya Nak. Gak lepas mata ibun memandangi kamu yang lagi bobo manis dan kadang ngulet2 sambil senyum di dalam box. Bersyukur tiada terkira. Meskipun kamu mungil, tapi kamu bayi yang kuat dan sehat. Alhamdulillah enggak perlu masuk inkubator atau pakai alat bantu.

 Jujur persiapan melahirkan mu ibun nggak terlalu heboh belanja atau nyiapin macem-macem. Ibun masih menahan diri karena ada rasa khawatir takut terjadi hal hal yang tidak diinginkan, mengingat riwayat kehamilan sebelumnya. Paling seminggu sebelum persalinan, ibun belanja hal hal ter-basic yang dibutuhkan newborn. Sisanya ibun minjem baju dan perlengkapan dari tante Riffa dan bude Mima. Tapi setelah kamu lahir, kerjaannya mantengin olshop melulu hahahaha.

 Tepat di hari ke 3, jam 11 malam ibun dan ayah sudah di jalan pulang ke rumah bersama bayi imut hadiah dari Tuhan. Agak heboh juga, karenakirain bakal pulang besok pagi/siang. Tapi ternyata setelah dokter visit (yang mana baru dateng jam 10 malem), kita berdua diperbolehkan untuk pulang. Alhamdulillah...




Gavin sayang. Ibun dan Ayah loooove you so much even before you're born. Ibun percaya dan selalu berdoa agar Gavin tumbuh dengan bahagia sebagai anak yang sehat, kuat, soleh, pintar, humble, berhati emas, dan penuh keberuntungan. Doakan semoga ibun dan ayah juga selalu sehat, panjang umur, dan berlimpah rezeki sehingga bisa terus menemani Gavin sampai tua. 
I LOVE YOU