Thursday, July 10, 2014

politik..politik... *linting kumis, usap perut buncit*


This post is dedicated to my late grandfather. I used to call him "Atung". The one and only politician (that I personally knew) who works wholeheartedly - pure for the community.

Pesta demokrasi saat ini sedang berlangsung di Indonesia. Semua orang mendadak menjadi pengamat politik dan ahli tata negara. Kemanapun bola mata ini melangkah, baik itu di jalan ataupun via screen media sosial, pasti isinya kampanye capres. Btw ini masih rada mending sih, dibandingkan awal tahun lalu, dimana mana iklan caleg melulu. Nggak jarang iklan tersebut cuman berisi taburan janji surga di mix sama pose wajah si caleg yang sok wibawa atau senyum "asal tarik bibir".

Bahkaaaan ada artis yang poster kampanyenya memuat gambar Ultra Man, Iron Man, Captain America, Sponge bob, dll.... demi apah loooo? maksud "message" komunikasi-nya apa nih? (in fact, dia berhasil menang jadi caleg beneran loh... o em ji! * kejet2*)

Saya berkenalan lebih intens dengan politik disaat kuliah. Kebetulan, jurusan yang saya pilih termasuk di dalam FISIP (fakultas ilmu sosial dan ilmu politik). Then, mau nggak mau, mata kuliah wajib yang kudu diambil adalah Pengantar Ilmu Politik.. amsyiong! nggak fun banget...hahahaha

Sejujurnya, nggak ada materi di kuliah tersebut yang nyangkut dengan long lasting di memory otak saya, kecuali adalah adegan ketika awal mula kelas tersebut berjalan. Saya inget banget, hal yang pertama kali ditanyakan oleh pak dosen adalah pertanyaan yang paling mendasar

"apa itu politik?"

ziiing.... tipikal murid2 endonesa, yang udah "kicep" kalo sesi tanya jawab, mendadak kelas yang tadinya rame langsung sunyi senyap.

Kemudian saya dikejutkan oleh suara yang datang persis dari kursi belakang saya. seorang mbak-mbak yang sepertinya mahasiswa senior berdiri dengan pede-nya. Saya yakin berat kalo doi pasti dari jurusan politik.

"politik adalah bagaimana menjatuhkan "lawan" kita dengan cantik"
"heeeeeh?!" sayapun mengernyit, dan sontak berkomentar dalam hati "iiihhh... jahat amat siiii!" *langsung suudzan, kira kira siapa yang mau dijatuhin ama si mbak*

Selang beberapa tahun kemudian, I found the truth... saya baru ngerti maksud omongan si mbak diatas, dan makin men sah kan asumsi awal saya, bahwa politik emang jahat!

Almarhum Atung,  prof Dr. H Hadjid Harnawidagda adalah seorang organisator sejati ( apa sih istilah untuk orang yang gemar berorganisasi? organisator bukan yak? hahaha.... anggaplah itu benar). Beliau adalah anggota aktif  Muhammadiyah. Tiap ada Muktamar Muhammadiyah dimanapun pasti ngikut. Kalau lagi keluar negeri pun, terutama bangsa serumpun kayak malaysia dan singapore, yang wajib dijunjungi adalah kantor Muhammadiyah cabang sono. Alasannya adalah untuk silaturahmi. Benar benar loyalis organisasi sesungguhnya.

Selain itu, beliau juga merupakan guru besar jurusan bahasa inggris yang sangaaaattt concern dengan dunia pendidikan. Beliau selalu meng-encourage orang untuk bisa mengenyam pendidikan tinggi, dan lulus dengan baik. Salah satu contohnya adalah Bang Hasan (sopir nya yang lulusan sma, mantan sopir angkot) yang kemudian di sekolahin sama atung sampai jadi sarjana biologi! dan sekarang profesinya jadi guru biologi.
Sewaktu atung jadi pembantu rektor, salah satu kerjaannya adalah manggil manggilin para MA (mahasiswa abadi) yang udah kuliah dari tahun jebot tapi nggak kunjung lulus. Padahal.... mahasiswanya sendiri juga mungkin ga peduli yah sama status mereka, tapi Atung sadar bener bahwa mahasiwanya tersebut tinggal selemparan batu buat jadi sarjana, dan bisa punya nilai "lebih" di kehidupan mereka selanjutnya, yakni dunia kerja. Sayang banget kaaaan kalo kuliahnya nggak lulus. Sekarang, mereka malah berterima kasih sama Atung, kalo bukan karena paksaan untuk lulus.... bisa jadi sampe sekarang tetep nggak lulus lulus. hehehe. Ada cerita berkesan dari salah satu mahasiswa Atung yang di post di blognya

Beliau juga adalah orang yang memiliki jiwa sosial tinggi serta penjalin silaturahmi yang sebenar-benarnya. Kata ibu saya, saking care nya sama anak yatim... atung sampai menyewa mobil pick up untuk membawa anak anak tersebut ke lapangan bola beneran, plus ikut kejuaraan sepak bola. padahal, mereka biasanya cuma mentok main di pekarangan rumah atau tanah kosong. nggak pake gawang dan seringnya mentok tembok.  kebayang doooong gimana senengnya mereka.

Buat beliau, silaturahmi adalah hal utama.
 "silaturrahmi membuka pintu rizki,dan memperpanjang umur" ungkapnya berkali kali. 
jadi nggak jarang tuh ketika saya ada business trip kemana aja seringkali disuruh nemuin keluarga nya atung disana. dan seringnya juga saya tolak, dengan alesan klisye "nggak sempet" duuuh, maap ya tuuung... nyesel deh sekarang.

Hal lain yang saya kagumi dari Atung adalah pada ketelatenannya terkait dokumentasi foto. Sepertinya buat beliau sebuah "moment" itu nggak bisa diulang. Sehingga harus diabadikan dengan benar. Saya yakin beliau adalah penganut no pic = hoax. Sebab, koleksi album foto nya seabrek abrek. Nggak jarang, tiap foto disertai dengan caption yang menjelaskan detail foto tersebut. Kalo pas lagi jalan-jalan ke manapun segala tiket pesawat, tiket bis, karcis masuk tempat wisata, mata uang asing, dll juga ikut di kolase dalam album foto. Bahkaaaan meskipun sekarang udah era nya gambar digital tetep aja beliau suka bolak balik mampir studio foto buat mencetak. Setiap tahunnya, untuk menyambut ultah pernikahan beliau dengan eyang uti, kami keluarga besar pasti dibuatkan baju seragam. Kemudian beliau juga menginstruksikan buat bikin spanduk "Hadjid Family" yang fungsinya buat properti foto.  (ooohh... how I really miss you, atung, kalo sekarang di lihat lihat lagi tu album foto...bisa sambil senyum senyum sendiri. nostalgia banget)

Mari kita Kembali ke.... politik! *linting kumis, usap perut gendut ala pejabat*

singkat cerita, memasuki masa reformasi, beberapa pimpinan muhammadiyah kemudian membentuk partai politik baru bernama Partai Amanat Nasional ( PAN) dengan sebagian besar pengurus partainya adalah orang Muhammadiyah. Di tahun 1998 tersebut, Atung menjadi salah satu inisiator pembentukan PAN Tangerang. Saat itu, belum mengenal yang namanya pemilihan langsung bagi calon legislatif. Dan yang berhak duduk sebagai anggota dewan legislatif adalah nama teratas berdasarkan usulan partai. Waktu itu, Atung berada dalam naungan PAN Jawa Barat pada urutan ke 2. Tapi....karena jatahnya cuma 1, akhirnya atung tidak terpilih sebagai anggota DPRD Jabar. Padahal waktu itu saya udah ngarep tuh, secara sampai lulus SMP saya belum pernah jalan - jalan ke Bandung, sedangkan teman teman saya bolak balik cerita tentang bandung beserta barang-barang "lucu" yang ada disana. Kalo Atung jadi...kan bisa punya alesan ngajak nyokap ke Bandung...hahaha *modus*

Ndelalah, seiring dengan munculnya kebijakan otonomi daerah yang memicu pemekaran wilayah berdampak pada munculnya beberapa propinsi baru. Salah satu nya adalah Banten, laluuu.... posisi untuk menjadi anggota DPRD Banten pun dibuka. Atas dedikasinya dalam pembentukan PAN Tangerang, sebagai orang nomor urut 2 tidak disangka atung berhasil mendapat kesempatan untuk bisa duduk di tampuk Legislatif. Cuma.... like I said earlier, dunia politik sangatlah beda dengan dunia sosial yang biasa atung jalani di Muhammadiah. Politik itu jahat. Adaaaaa.... aja usaha orang lain untuk memindahkan jatah kursi dari yang berhak. Alhamdulillah atas bantuan banyak teman atung yang baik - baik, akhirnya beliau resmi dilantik sebagai anggota DPRD dan mendapat amanah untuk memberikan kontribusinya sebagai anggota dewan di propinsi Banten.

Selama menjabat, atung menjadi ketua komisi E yang sesuai dengan kecakapannya sebagai dosen (beliau sdh pensiun jd PNS, btw) yaitu membawahi bidang pendidikan. Beliau bukanlah orang yang memanfaatkan jabatan dan nggak sembarang menggunakan fasilitas negara buat enak-enakan pribadi.  Selama menjabat pun, beliau mengontrak satu kamar kos kecil di Kota Serang. Hari hari nya diisi dengan rapat rapat dan rapat... hehehe sampe eyang uti bosen *wink wink* Kontribusinya cukup signifikan dalam meningkatkan kualitas pendidikan di propinsi Banten, Karena motivasinya adalah untuk mengabdikan diri pada masyarakat dan pendidikan, atung secara tulus menjalani posisinya. Kalo ada yang minta bantuan untuk memajukan pendidikan, pasti dibantu. Dan kalau ada yang minta "aneh-aneh" atung secara tegas menolak.

Sayangnya...lagi lagi... politik itu kejam. Kalo saya tidak salah ingat, menjelang akhir masa jabatannya, beliau serta beberapa anggota legislatif lain di laporkan telah menerima sejumlah uang. Selanjutnya pengadilan memberikan dua opsi yaitu mengembalikan uang  dipenjara... hiiiyy sereem *amit amit**ketok ketok meja**paitpaitpaitpait* Buat Atung pribadi, beliau tidak merasa melakukan pelanggaran. Karena uang yang beliau terima memang adalah hak beliau yaitu gaji beserta tunjangan jabatannya. Akhirnya Atung pun memilih untuk mengembalikan uang yang didapatkan nya. Ya kalo emang tidak seharusnya menerima, ya dikembalikan saja... ngapain juga ngambil 



Sebagai akademisi beliau juga gemar menulis. Sempat beberapa kali artikel beliau terkait pendidikan dimuat di media massa. 



.....time to go home... dilanjut besok lagi ah... ini udah berhari hari belom kelar juga artikelya huhuhu maafkaaan

No comments:

Post a Comment