Showing posts with label newborn. Show all posts
Showing posts with label newborn. Show all posts

Wednesday, May 28, 2014

Reading Milestone (Compilation tweet by @ClaraNg ) Part 1





Tampaknya, hari ini saya mau balas dendam dengan memposting dua artikel within one day! hihihi... kelamaan absen nih soalnya.

Setelah nulis pengalaman membaca buku saya bersama gendhis, saya mau memaparkan bahwa ternyata ada 12 manfaat read a story, sesuai yang ada di buku "me and my mom-nya Gendhis, terbitan Erlangga kids.


1. Kemampuan berbahasa meningkat 
2. Kemampuan mendengar meningkat
3. Kemampuan berkomunukasi verbal meningkat
4. Kemampuan konseptual meningkat
5. Kemampuan memecahka masalah meningkat
6. Daya imajinasi dan kreativitas bertambah
7. EQ (kecerdasan emosi naik)
8. Nilai moral bertambah
9. Wawasan bertambah
10. Pengetahuan ragam budaya bertambah
11. Mendapatkan relaksasi jiwa dan raga
12. Keakraban emosi antara orang tua dan anak meningkat



Wooooww, banget kaaaan....

Nggak hanya itu loh. Sebagai ibu, pikiran kita dapat lebih "terbuka" lagi setelah baca kultwit dari @ClaraNg mengenai Reading Milestone. Jadi, dalam memperkenalkan aktivitas membaca pada anak sebenarnya ada stages-nya, yaitu anak diberikan treatment stimulasi bacaan sesuai usianya. Sehingga proses membaca bisa lebih maksimal. 

@ClaraNg membagi reading milestone ke dalam beberapa stages yaitu 0-12 bulan, 1-3 tahun, 4-7 tahun, 8-12, dan 12 - 18 tahun atau young adult (YA).

Kali ini, dimulai dari yang paling dekat dengan kita...yaitu kelompok the youngest reader alias baby dari umur 0 sampaI 12 bulan.

Yuk disimak...




1. Banyak yang tanya, “Bagaimana kenalin buku buat bayi, Mbak?” Ini utang terakhirku untuk #readingmilestone tingkat bayi 0-1 tahun. Tagarnya #babybook

2. Prinsipnya, memperkenalkan buku kepada bayi sama dengan memperkenalkan bahasa kepadanya. Reading skills = language skills. #babybook

3. The beginning of language is started long before a baby is born. Bicara sama bayi waktu masih di perut = memperkenalkannya dengan bahasa. #babybook

4. Usia 0-1 tahun adalah usia paling ajaib. Menurutku, inilah saatnya menyaksikan pertunjukan mahakarya how the language is born. #babybook

5. Pertunjukan keren ini tidak bisa dinikmati hanya dengan sit back and do nothing. Orangtua harus benar-benar terlibat dalam memperkenalkan buku & bahasa #babybook

6. Usia 0-3 bulan, bayi belum bisa & gak tertarik menyentuh buku. Tapi dia akan melirik gambar. Tunjukkan gambar2 sambil bernyanyi/ngomong. #babybook

7. Bayi 0-3 bulan akan tenang dengan suara ibu. Nyanyian & irama adalah cerita pertama yang dimengertinya. Dia sadar dengan lagu yang diulang terus-terusan. @babybook

8. Usia 4-6 bulan, bayi mulai mampu dan tertarik menyentuh buku. Kasih buku-buku mungil yang terbuat dari kain, bahan flannel, board keras. #babybook

9. Dia akan mulai menginvestigasi buku. Biarkan dia melakukannya. Bayi akan mengeluarkan suara-suara lucu kalau dibiarkan “ngobrol” dengan buku. #babybook

10. Usia 6-12 bulan, dia sudah bisa menyukai buku. Ajarin dia membalik halaman dan bersama-sama tunjuk dan membelai gambar. #babybook

11. Dia akan memperlakukan buku seperti barang mainannya. Gabungkan buku di kotak mainannya sehingga dia mengerti kalau buku = fun stuffs. #babybook

12. Kalau membacakan buku untuk si 6-12 bulan, tunjuklah gambar lalu tanya, “Apa ini? Apa itu?”. Bayi gak tertarik pada CERITA, tapi pada GAMBAR. #babybook

13. Sekitar 1+ tahun, ciptakan jam rutin baca bareng. Bisa sebelum tidur, sesudah bangun, atau habis makan. Inilah awal dr life long of reading habit. #babybook

14. Kalau mulai mendongeng, cari cerita2 yang pendek saja. Singkat. Ga perlu yang panjang-panjang. Yang penting bergambar, penuh warna ceria. #babybook

15. Kenapa bayi perlu dikasih buku? When you read to kids, they’re getting your full attention. Nothing (TV & Ipad) is better than that. #babybook

16. Reading to babies is a great way to immerse them in the sounds and rhythms of speech. Penting untuk perkembangan berbahasa. #babybook

17. Ortu biasanya cemas kl anaknya telat bicara. Read them books to boost and speed up their language abilities! #babybook

18. Akhirnya selesai juga utangku di Twitter hehe. Sudah kelar jelasin mapping #readingmilestone dari bayi 0 tahun sampai remaja 18 tahun. #babybook

19. Ketrampilan membaca dimulai dari perkenalan bahasa kepada bayi, climbing up all the way to teens. As parents, we can’t leave them alone. #babybook

20. That’s all, tweeps :) #babybook.

Lanjut reading milestones stage selanjutnya disini

Wednesday, January 8, 2014

Bayi Hobi Ngempeng Puting 2

Berikut adalah copy artikel berguna tentang ngempeng puting dari file milis AFB yang saya ambil dari sini,
Sengaja saya re-post ulang di blog saya sebagai note dan siapa tahu bisa berguna buat buibu yang sedang galau karena menghadiapi masalah yang sama

---------------------------------------------------------------------------------------------

Dear AFBers,

Aku tadi dari rumah sahabatku yg lagi punya baby (Malik-1,5 bulan), 
seperti yg dia sms ke aku (dan tadi aku liat sendiri) bener2 "nenen 
addict" ..jadi perilakunya tuh jarang banget bisa bobo tenang yg agak 
lama. Bisa sepanjang jam 8 pagi sampe jam 3 sore tuh minta mimi terus, 
tidur sebentar setelah menyusui, tapi ditaro di tempat tidur hanya 
bertahan 10 menit, abis itu bangun, nangis dan baru bisa brenti nangis 
kalo udah nenen lagi sama mamanya.

Trus cara menyusu juga lucu..jadi 5-10 menit pertama dia hisap kuat-
kuat, trus abis itu sambil terkantuk-kantuk dia hanya ngempeng puting 
aja..tapi tetep gak mau dilepas. Itu berlangsung sepanjang hari 
loh..bahkan kalo malem juga gitu.

Berbagai tips udah dicoba mulai dari ngalihin perhatian ke mainan, 
diajak ngobrol, tapi belom mampu mengurangi "daya ngempengnya" itu. 
Malik udah minum campur sufor, karna dia nangis terus seperti tidak 
kenyang dengan ASI mamanya. Meskipun sekarang mamanya lagi usahain 
hanya ngasih ASI aja. Malik juga pake empeng (pacifier) buat trik biar 
dia bisa tenang dan nggak nangis.

Nah, sekarang temenku ini kebingungan mesti gimana ya mengubah 
kebiasaan ngempeng puting dan gak bisa lepas dari gendongan mama-nya 
ini? Ini kan berabe kalo nanti mamanya udah mulai masuk kerja lagi.

Mungkin ada diantara moms yg pernah ngalamin hal serupa.. aku sih cuma 
ngasih masukan berdasarkan apa yg pernah aku baca di milis yg 
problemnya mirip2..tapi ternyata belum ampuh buat Malik. Aku sendiri 
gak punya pengalaman yg kayak gini, dulu Rasya miminya memang banyak, 
tapi tidurnya juga banyak..dan gak pernah ngempeng kayak Malik.

Ditunggu ya sharingnya..mamanya Malik perlu banget tuh trik2 baru yang 
ampuh :) Karna ini kan berhubungan juga dengan kualitas tidur bayi 
yaa.. bayi seumuran Malik kan masih perlu kualitas tidur yg lumayan 
banyak. Selain itu, mamanya juga jadi kurang istirahat..pastinya sih 
dibela-belain yaa.. cuma tetep aja dong ada capeknya :)Makasih 
sebelumnya moms..


salam ASI!
YeYe - bundanya Rasya


----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Dear Mbak Yeye,

Saya coba share sedikit dari pengalaman saya & menambahkan masukan dari
Mbak Ajeng.

Beberapa bayi memang memiliki perilaku menyusu yg unik. Salah satunya
mengempeng spt Malik. Tipe bayi yg begitu nempel di payudara ibu, mulai
menyusu sebentar kemudian tidur. Biasanya dg tipe bayi spt ini ada
beberapa hal yg bisa dilakukan utk membantu sang ibu.


nyusu sebentar terus bobo


Step #1. Pastikan bayi telah melekat dg baik pd payudara ibu (good
latching on)
-----------------------------------------

Saat mbak yeye memperhatikan malik menyusu, saya yakin mbak yeye
memperhatikan dg baik apakah Malik melekat dg baik pada payudara ibu
(areola atas tampak lebih byk terlihat dari areola bawah, dagu bayi
menempel pada pyudara ibu, mulut bayi menggembung saat menyusu, dsbnya)
atau tidaknya.

Jika Malik melekat dg baik, maka kita bisa masuk ke step ke 2. Jika tidak,
maka kita bisa membantu Malik utk melekat dg baik pada payudara ibu. Salah
satunya dg teknik menggelitik bibir bayi (mouth tickling) ==> bayi membuka
mulut lebar (open wide) ==> dorong perlahan bayi hingga sebagian areola
masuk ke dalam mulut bayi (gentle push).

Step #2. Gunakan teknik Breast Compression
---------------------------------------------------

Teknik ini digunakan jika : bayi menyusu sekitar 3-5 menit kemudian diam
ataupun tertidur. Kemudian melakukan gerakan nibble (spt mengunyah) tapi
ga terlihat gerakan minum.
Jika bayi tidak memiliki ciri diatas ataupun bayi menyusu dg baik selama
beberapa saat, kemudian setelah bayi puas menyusu bayi tetap ingin
mengempeng pada ibu, maka step #3 dapat dilakukan

Teknik Breast Compression adalah teknik pemerasan (maaf belum tau kata
tepat utk translate compression) pada payudara saat bayi menyusu.

Umumnya bayi berusia 3-6 mg relatif mudah tertidur di payudara ibu jika
aliran ASI melambat. Teknik ini membantu bayi utk mendapatkan ASI dalam
jumlah yg cukup. Perlu kita ingat bersama bahwa teknik ini hanya digunakan
JIKA bayi telah benar melekat pada payudara ibu (good latching on) dan
saat bayi sedang mengisap (mengempeng) tapi ga sedang menyusu.

Teknik bermanfaat ini ditemukan oleh pakar laktasi Dr Jack newmann sgt
membantu bayi2 yg sering mengempeng, bermasalah dg pertumbuhannya, bayi2
baru lahir, dsbnya.
Jika semua hal lancar, teknik ini tidak terlalu dibutuhkan.

Breast compression relatif digunakan jika bayi yg sedang menyusu tiba2
tertidur atau diam cukup lama (mengantuk, ngempeng) dg cara memeras daerah
payudara ke arah areola. Ditekan dan bukan didorong. Jari2 ibu diletakkan
dalam posisi C dan ditekan HANYA saat bayi sedang tidak minum (jika
dilakukan saat bayi minum, relatif dpt mengganggu proses bayi menyusu
ataupun tersedak). Kemudian hentikan jika bayi sudah diam kembali dan agar
aliran ASI berjalan kembali.



gaya tidur "angkat tangan!"


Mungkin agak susah membayangkan ya mbak hehehe. Tapi silahkan dilihat di
artikel dibawah emai ini lengkap dg videonya.
Teknik breast compression ini sudah banyak saya terapkan di banyak ibu
menyusui. Termasuk ketika dulu putri saya masih bayi dan memiliki case
serupa spt Malik.


si bayi nempeeeel melulu gak bisa dilepas


Step #3. Melepaskan bayi dari payudara jika ia selesai / puas menyusu
----------------------------------------------


Seringkali kita kesulitan menentukan apakah bayi sudah puas menyusu atau
belum. Atau apakah bayi mengempeng atau masih menyusu. Sebetulnya hal ini
gampang2 susah. Bayi yg mengempeng (hanya menghisap payudara ibu) dg yg
menyusu aktif (bayi minum dan bukan hanya menghisap) relatif mudah
dikenali. Jika bayi minum dari payudara ibu saat menyusu, maka akan ada
gerakan menelan dan mulut menggembung berisi asi serta ritme diem (pause).
Nibble-Mouthfull-Suck-Pause. Gerakan tsb akan berulang spt ritme.
Bayi yg mengempeng atau hanya menghisap akan terlihat lebih banyak gerakan
nibble (spt mengunyah atau menggerigiti ..duh maaf ya belum tau gimana
translatenya hehehe) dan relatif minim atau ga ada gerakan menelan ataupun
mouthfull.

Demikian jg utk menentukan bayi yg puas menyusu atau tidak. Bayi yg puas
menyusu umumnya relatif akan melepaskan diri dari payudara ibu. Namun
beberapa bayi tidak melakukan hal ini. Ia akan tertidur di payudara ibu
dalam keadaan mengempeng. Tanda utk mengenali bayi spt ini adalah dg
memperhatikan pola menyusunya di awal saat ia mulai menyusu. Jika ia aktif
menyusu selama beberapa wkt (umumnya sekitar 10-15 menit atau lebih) dg
gerakan minum secara aktif, maka dapat dipastikan bayi betul2 mendapatkan
intake sesuai dg yg dibutuhkan.
Sayangnya patokan wkt relatif sulit utk menentukan apakah bayi sudah puas
atau belum menyusu pada ibunya. Hanya patokan umum jika bayi tidak menyusu
(hanya mengempeng) pd ibu adalah jika bayi telah menyusu pd payudara ibu
selama lebih dari 30 menit atau berjam2 tanpa gerakan minum secara aktif.
Jika hal ini terjadi, ibu dapat membantu bayi melepaskan dari payudara ibu
dg teknik berikut :

- Dengan menyelipkan sedikit jari kelingking kita (tentu saja dlm keadaan
bersih) ke dalam mulut bayi
- Arahkan ke arah tengah mulut. Biarkan bayi mengisap jg jari kita.
- Perlahan namun pasti tarik areola ibu dari mulut bayi.
- Lepaskan jari ibu dari mulut bayi. Dan biarkan bayi tertidur.



Selamat mencoba & membantu ya mbak.
Maaf kalo email saya susah dimengertinya hehehe.
Saya yakin mbak yeye dapat melakukannya dg amat baik.
And your friend must be really proud and grateful having you by her side.

Love
Luluk
"While breastfeeding may not seem the right choice for every parent, it is
the best choice for every baby"
==========================

http://www.drjacknewman.com/index.php?option=com_content&task=view&id=82&Itemid=112

BREAST COMPRESSION

The purpose of breast compression is to continue the flow of milk to the
baby once the baby no longer drinks (“open mouth wide—pause—then close
mouth” type of suck) on his own, and thus keep him drinking milk. Breast
compression simulates a letdown reflex and often stimulates a natural
letdown reflex to occur. The technique may be useful for:

Poor weight gain in the baby
Colic in the breastfed baby
Frequent feedings and/or long feedings
Sore nipples in the mother
Recurrent blocked ducts and/or mastitis
Encouraging the baby who falls asleep quickly to continue drinking not
just sucking
Breast compression is not necessary if everything is going well. When all
is going well, the mother should allow the baby to “finish” feeding on the
first side and, if the baby wants more, offer the other side. How do you
know the baby is finished? When he no longer drinks at the breast (“open
mouth wide—pause—then close mouth” type of suck).

Breast compression works particularly well in the first few days to help
the baby get more colostrum. Babies do not need much colostrum, but they
need some. A good latch and compression help them get it.

It may be useful to know that:

A baby who is well latched on gets milk more easily than one who is not. A
baby who is poorly latched on can get milk only when the flow of milk is
rapid. Thus, many mothers and babies do well with breastfeeding in spite
of a poor latch, because most mothers produce an abundance of milk.
In the first 3-6 weeks of life, many babies tend to fall asleep at the
breast when the flow of milk is slow, not necessarily when they have had
enough to eat. After this age, they may start to pull away at the breast
when the flow of milk slows down. However, some pull at the breast even
when they are much younger, sometimes even in the first days.
Unfortunately many babies are latching on poorly. If the mother’s supply
is abundant the baby often does well as far as weight gain is concerned,
but the mother may pay a price—such as, sore nipples, a “colicky” baby,
and/or a baby who is constantly on the breast (but drinking only a small
part of the time).
Breast compression continues the flow of milk once the baby is no longer
drinking from (only sucking at) the breast and results in the baby:

Getting more milk.
Getting more milk that is higher in fat.
Breast compression—How to do it
Hold the baby with one arm.
Hold the breast with the other, thumb on one side of the breast (thumb on
the upper side of the breast is easiest), your other fingers on the other,
fairly far back from the nipple.
Watch for the baby’s drinking, (see videos at
www.thebirthden.com/Newman.html) though there is no need to be obsessive
about catching every suck. The baby gets substantial amounts of milk when
he is drinking with an “open mouth wide—pause—then close mouth” type of
suck.
When the baby is nibbling at the breast and no longer drinking with the
“open mouth wide—pause—then close mouth” type of suck, compress the
breast. Do not roll your fingers along the breast toward the baby, just
squeeze. Not so hard that it hurts and try not to change the shape of the
areola (the part of the breast near the baby’s mouth). With the
compression, the baby should start drinking again with the “open mouth
wide—pause—then close mouth” type of suck. Use compression while the baby
is sucking but not drinking!
Keep the pressure up until the baby no longer drinks even with the
compression, and then release the pressure. Often the baby will stop
sucking altogether when the pressure is released, but will start again
shortly as milk starts to flow again. If the baby does not stop sucking
with the release of pressure, wait a short time before compressing again.
The reason for releasing the pressure is to allow your hand to rest, and
to allow milk to start flowing to the baby again. The baby, if he stops
sucking when you release the pressure, will start again when he starts to
taste milk.
When the baby starts sucking again, he may drink (“open mouth
wide—pause—then close mouth” type of suck). If not, compress again as
above.
Continue on the first side until the baby does not drink even with the
compression. You should allow the baby to stay on the side for a short
time longer, as you may occasionally get another letdown reflex (milk
ejection reflex) and the baby will start drinking again, on his own. If
the baby no longer drinks, however, allow him to come off or take him off
the breast.
If the baby wants more, offer the other side and repeat the process.
You may wish, unless you have sore nipples, to switch sides back and forth
in this way several times.
Work on improving the baby’s latch.
Remember, compress as the baby sucks but does not drink.
In our experience, the above works best, but if you find a way which works
better at keeping the baby sucking with an “open mouth wide—pause—then
close mouth” type of suck, use whatever works best for you and your baby.
As long as it does not hurt your breast to compress, and as long as the
baby is “drinking” (“open mouth wide—pause—then close mouth type” of
suck), breast compression is working.

You will not always need to do this. As breastfeeding improves, you will
able to let things happen naturally. See the videos of how to latch a baby
on, how to know a baby is getting milk, how to use compression at our
video page.

Sunday, November 17, 2013

Dilemma : Jadul vs Modern

haha!!

Ini nih dilemma para emak emak muda vs nyokap, mama mertua, tante, bude, bahkan eyang dan para tetua lainnya.




Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan yang makin sophisticated serta banyaknya penelitian penelitian baru terkait dengan pertumbuhan bayi sudah pasti paham paham jadul yang terbukti tidak baik seharusnya ditinggalkan.

Tapiiiii.... penerapannya nggak semudah itu. Challengnya justru dateng dari orang orang terdekat kita yang merasa "tau baget" cara terbaik mengurus bayi. padahal, kalo melihat update informasi terbaru, cara yang mereka terapkan itu justru berbahaya buat baby.

terus gimana doooong?

Coba untuk berargumen? pasti!!! kasi pengertian dengan cara halus? iya!!!! kasi semua bacaan bacaan yang ada di buku dan internet? tentu saja!!! ajak ke dokter anak serta klinik laktasi? udah doooong!!!

hasilnya? 
Sama ajah beybeh. Tetap stick dengan beragam informasi jadul yang emang udah melekat lengkeeet banget di kepala mereka.
justru, mereka malah mempertanyakan "kenapa sih dokter dokter sekarang gak kayak dulu. apa apa serba nggak boleh. heran....kan kasian anak anak bayi sekarang"
kalo udah gini? do'oooh...capcayyy dehhh #tepokjidat aja

Dari pada jadinya ribut dan bikin pertengkaran nggak sehat, saya berusaha untuk berkompromi dengan syarat selama hal yang dilakukan tersebut emang masih bisa dikompromikan. Toh, sebenernya mereka seperti itu karena perhatian plus sayang sama si baby kok. initinya, saya percaya mereka nggak akan mencelakakan anak saya. saya  berusaha menguatkan diri untuk bisa ikhlas lillahita'ala

ini kan baby saya ya, pasti most of time selalu nempel sama saya rather than sama orang lain, apalagi pas newborn saya masih dapet 3 bulan cuti puas puasin deeeh. nah kalo lagi sama saya sebisa mungkin saya optimalkan pengasuhan dan treatment sesuai standar saya. 

jadi jalan tengah yang saya ambil adalah:
1. bayi dipakein gurita. ya nanti kalo yang makein gurita udah pergi, dilonggarin aja guritanya
2. bayi dipakein bedak. umpetin aja bedaknya, ato bilang bedaknya abis
3. bayi dibedong. pelang pelan longgarin deh bedongnya
4. bayi di bobo in pake bantal bulet. pas yang bobo in pergi, miringin bobo si bayi, dan rutin di miringin kearah berlawanan tiap seteng jam atau sejam sekali biar kepalanya bulat sempurna. kalo ditanya, bilang aja bayinya yang miring miring sendiri. hihi
5. kalo siang ibu bayi nggak boleh tidur karena pamali. cuek tidur ajaaaa.... emangnya situ yang ntar malem begadang?!
6. kalo bayi mau dikasih madu. fyi, madu itu baru boleh umur 1 tahun keatas. harus ditolak dengan tegas!! minta dukungan suami.
7. kalo bayi mau dikasih empeng. this is nightmare!!!! kasih sugesti ke bayi dengan bilang empeng itu nggak enak, enakan mimik ibun. lakukan berulang ulang jangan bosan. and trust me it works! sudah saya buktikan. anak saya begitu dikasih empeng sama eyangnya langsung dilepeh. yeaaaayyyy!!!
8. kalo kita disuru minum obat pas anak kita sakit, dengan alasan biar khasiat obatnya terminum oleh baby lewat asi. bilang aja "iya". senyumin orang yang ngasih nasihat
9. kalo dibilang asi kita kurang karena kok anaknya ngempeng melulu atau nangis melulu. bilang aja "nggak kok". kasih liat langsung ato lewat foto stok asip kita di kulkas, atau botol hasil perahan kita semaleman (walaupin tadi malem merahnya dicicil sedikit sedikit kan lama lama juga bisa sebotol penuh hoho)
10. kalo dibilang kok anaknya kurus banget, tambahin susu formula. Menurut saya, selama berat badan anak kita kalo di plot di growth chart masih oke, dont worry. bilang aja itu genetik, liat aja papa nya langsing, eyangnya langsing (walaupun mama nya ndut #tutup muka)
9. dll semacamnya.
buat saya somehow kita juga harus bisa bertoleransi selama emang hal tersebut toler-able. nggak perlu terlalu strict sama idealisme kita. karena kalo nggak gitu, kita akan stress dan depresi. babyblues pun nggak akan ilang ilang. asi pun bisa jadi seretttt






tetap semangat memperjuangkan yang terbaik buat anak anak kita ya, mommies
cheers!

Monday, September 30, 2013

cuss PULANG!!! Yeayyyy!!!

Sabtu, 8 Desember 2013

Pagi pagi airen udah duluan berangkat ke rs buat ngasi susu yang tadi malem buta saya perah. he's definetely ayah asi sejati! Tampaknya, doi udah jadi primadona di kalangan suster suster di RS. Menurut pengakuannya, sih...begitu dia buka pintu Perina dan teriak "susssssuuuu...." para suster langsung ngerubungin. halah....ternyata modus yaaaaaa ayahhhh kamu mau sekalian ngecengin suster suster kece disana!

Saya nyusul ke rs jam 9. Karena emalem bobo saya lebih nyenyak dibanding malem malem sebelumnya, saya merasa pagi ini badan sudah enakan. Begitu ketemu adek, ternyata dia langsung nemplok nyusu tanpa perlawanan. Horeeee!  Adek pun udah dipindah di box biasa, nggak di dalam inkubator lagi. Alhamdulillah... duh, pagi ini dunia rasanya indaaaaah sekali.

Jam 11 jadwalnya adek diambil darah untuk kesekian kali. Semoga ini yang terakhir ya, mudah-mudahan nanti hasilnya sudah normal dan kami bisa langsung boyingan pulang. SEJUTA AMIN!!!!

So, gimana nasib persusuan adek baby? buah dari keikhlasan saya semalem alhamdulillah adek hanya sekali dapat susu formula tambahan.

Dan pagi ini, baby kecil di samping box adek udah siap siap mau pulang. Mamanya dibekalin gendongan kangguru sama suter. Informasi baru buat saya nih, jadi ternyata dengan menggendong seperti kangguru, bayi prematur akan selalu mendapatkan hangat pelukan ibu seperti dalam kandungan. Hal tersebut berguna untuk memaksimalkan pertumbuh baby. See yaa again baby mungil, Sehat selalu ya... doakan baby Gendhis juga cepet menyusulmu pulang ke rumah.

So, tinggalah saya berduaan dengan baby cantik kepunyaan saya di ruangan ini. Feel so lonely, ga punya teman senasib seperjuangan lagi deh.

--------------------------------------------------------------------------------------------

Detik demi detik menggelayut bak siput. Ada sisi positif dari semingguan saya di RS yang belakangan baru saya sadari. Konon katanya nih, 40 hari pertama adalah hari hari paling melelahkan sebagai ibu baru karena proses "begadang jangan begadang" adek baby sedang super intens. Bagi saya, berarti sudah dapet diskon  seminggu karena begadang dan rempongnya udah digantiin sama suster suster baik hati. meskipun di rumah tidur saya juga ga nyebyak siiih. 

Hal lain adalah karena sering merhatiin suster suster tersebut bekerja, secara nggak langsung saya jadi ngerti gimana cara yang bener makein diaper, ngebersiin pupu, makein bedong, gendong baby, dan yang paling pentiiiiing adah saya dapet panduan intensif posisi serta cara menbyusui yang benar. Hint! Menyusui di pd kiri itu ternyata posisinya lebih gampang dibanding yang kanan. Lebih nyaplok gitu mulutnya si bayi. Again, karena saya mamah muda kece yang panikan dan gampang cranky, kalo adek Gendhis lagi nangis disini banyak suster yang bantuin saya buat nenangin adek.

Finally!!! jam 4 sore hasil tes darah adek baby keluar. Kebetulan juga dsa adek dokter Eva something lagi praktek disini dan bisa visit. Alhamdulillaaaaaahhh hasilnya bagus. Bilirubin sudah normal! #sujudsyukurtiuplilinbikinslametan. Setelah berkonsultasi dengan dokter, adek baby diijinkan pulang. "nah, kalo gini kan saya enak mulanginnya" kata si dokter. preeeet!!

Selanjutnya adek dipersiapkan buat ditindik (nyokap saya udah spesial nyiapin anting bayi). Prosedur selanjutnya seblum pulang adalah baby mendapatkan imunisasi Hepatitis B dan Polio. Kemudian dilanjutkan dengan deafness test (pemeriksaan pendengaran). Tapi, hasilnya baru bisa dimabil minggu depan pas kontrol. Mudah mudahan hasilnya juga bagu ya.

"Terussss kapan dong foto newborn nya? Kok ga ada tanda tanda deeeh?" tanya saya dalam hati. Namun, saya terlalu malu buat nanyain, takut nanti dikira emak norak yang keganjenan anaknya mau difoto (padahal mah emang iyaaaa hahahaha) nyokap saya bahkan sampe nanya, "Mana, katanya mau difoto?" hihihi. Ah, sudahlah, ga difoto juga gak papah yang penting adek cuss pulang ke rumah. Yeay! #jogedpisang

Sebeum officially pulang, saya dan airen di berikan brief do and donts mengenai tata cara merawat bayi. Awanya cuman saya doang yang mau dijelasin, tapi lalu saya minta susternya supaya Airen dibolehin juga untuk mendengar penjelasan beliau. Biar dia ngerti juga, agar nantinya kami bisa jadi team yang solid buat mengasuh baby Gendhis.


Nanti saya share di postingan selanjutnya yaaaahhh apa aja do and donts-nya. Dadah Dadahhhh saya mau puk pelukan ama baby dulu aaahhh....

baby udah pindah ke box biasa

baru lahir kuku nya udah panjaaaaang... ga ada salon di dalem perut ya?

Perina oh Perina

Jumat 7 Desember 2013


Its gonna be a hard day. Gonna have a looong story today...

Yak. hari ini baby G diperiksa lagi bilirubinnya hopefully hasilnya sudah normal dan bisa dibawa pulang. Untuk pemberian antibiotiknya hari ini sudah dituntaskan, jadi kalo semua oke bisa langsung cuss pulang ke rumah. Yippieee

Oh iya, saya mau cerita tentang ibu-ibu seperjuangan saya yang baby nya sama-sama dirawat di ruang Perina nomor 2. Perina atau dikenal dengan nama Perinatologi adalah untit pelayanan khusus buat bayi-bayi baru lahir sampai usia maksimal 1 bulan yang memiliki permasalahan atau sakit. 



Sebagai preambule, sebenernya saya sama ibu-ibu itu nggak kenalan secara resmi, juga jaraaaaang banget ngobrol secara formal. Meskipun kalo lagi sama sama di dalem ruangan kami duduk sebelahan dan jaraknya juga cuman beda bebebrapa ubin. Tapi... masing masing tampak gloomy dengan bayi dan perasaannyasendiri sendiri. Kami sering sama sama bengong sambil menatap baby atau sambil menyusui. Suasana ruangan pun heniiiiing sunyi senyap gitu. Namun setelah udah berhari hari bersama, sebagai makhluk sosial akhirnya kita mulai saling hi hi dan ngobrol sedikit.

Di sebelah kanan dekat pintu, duduk seorang ibu keturunan chinese. Beliau rumahnya di daerah kembangan jakarta barat. Jauh banget yak bisa sampe Hermina ciputat bo! Dia cerita sebelumnya di hari dia melahirkan dia udah ngedatengin  beberapa rumah sakit, tapi penuh semua. Emang sih di RS ini aja pas hari adek lahiran ada kali lebih dari 10 baby yang lahir, Sampe ruangan baby cadangan pun ada beberapa baby. Lagi musim lahiran nampaknya. Nah, baby ibu ini masuk Perina untuk disinar karena kuning. Babynya lahir besar, perempuan yang beratnya hampir 4kg. Nama babynya Keiko. tiap kali nyusuin si ibu selalu ngajak ngomong bayinya dengan logat china totok. Lucu deh ngedengernya. Lumayan jadi hiburan buat saya. Hohoho

Daaan... hari ini, si ibu cerita kalo dia udah beberapa hari nginep di RS, dia mau minta pulang aja walaupun baby masih kuning. "Nanti dirumah bisa saya jemur kok babynya" katanya gitu. "Soalnya kan mahal ya biaya stay di RS, sayang sayang uangnya kalo mesti nambah hari lagi".  

Ada salah satu adegan lucu yang saya curi dengar pas si ibu ngotot minta pulang
ibu      : suster, pokoknya saya harus pulang. saya mau bayinya dibawa pulang aja 
suster: oh baiklah kalau begitu, tapi saya harus lapor dokter anaknya dulu                           karena bilirubinya masih tinggi.
ibu      : iya nggak papah. soalnya anak saya yang besar juga mau ujian. kasian dia               dia mau ujian, dia harus belajar (berulang ulang dengan heboh si ibu                         nyebut si koko (kakaknya keiko) mau ujian..mau ujian)
suster: emang kakaknya kelas berapa bu?
ibu: kelas TK #dowewwww
Kemudian, di serong kanan dari baby Keiko ada baby mungil yang sepertinya bblr (berat badan lahir rendah) karena prematur. Ibu dari baby ini paling rajin jengukin dan nenenin karena dia stay nungguin babynya dengan nginep di ruang tunggu pasien. Tiap kali datang menjenguk baby, pasti selalu dibuka dengan salam, assalamualaikum baby.... duh, damaiiii banget ngedebegrnya. 

Layaknya baby prematur yang kemampuan menghisapnya masih lemah dikarenakan lahir sebelum waktunya, ibu ini rutin memberikan sendiri asipnya mengunakan sendok seain menyusui langsung. Meskipun begitu, produksi asi si ibu sudah melimpaaaaah ruah. iriiiii banget deh ngeliatnya, sampe netes netes ke baju. Gluks! ternyata nggak ngaruh ya atara bayi lahir prematur dan produksi asi ibu. Walaupun lahir lebih cepet, ternyata asi ibu keluar lansung saat itu juga, ikut maju sesuai kelahiran baby.

Back to update Baby G
Hasil periksa  bilirubin adek keluar siang ini. Sadly, ternyata kadar bilirubinnya belum juga menyentuh batas normal. Masih di angka 14. Udah seharian di jemur kok cuman turun satu. Do'oooh makin teriris rasanya hati. 

Lalu apa saran dari dokter? Yeah rite, si dokter eva something yang sampe sekarang belum visit lagi itu menyarankan supaya adek disinar lagi. 1x 12jam. Kalo mau maksain pulang harus ttd surat pernyaaan dan dokter ga mau tanggung jawab. Hal itu disampein dokternya ke suster via telpon aja loooooh. Bahkan saya nggak boleh bicara langsung. Nyebelliiinnn!!! emang, nasib kalo dapet dokter mejeng nama doang. Pelajaran berharga banget nih.
Airen berusaha setengah mati buat nyemangatin saya. Alhamdulillah dia dapet cuti dari kantor seminggu full, jadi tiap hari bisa nemenin saya di RS. Mendengar berita sedih ini, dia ngajak saya buat makan siang diluar, biar ganti suasana, biar saya bisa sejenak lari dari kesuraman yang melanda. Tapi, tetep saya nggak mau pergi yang jauh jauh. And it works a bit! kami nemu tukang jual mie ayam enak yang rasanya mirip bakmi gm di pertigaan gintung. Di depannya ada stall minuman jus yang juga rasanya mantapppo. perut saya pun terhibur!

Sore hari, baby Keiko udah siap siap pulang. Sebelum pulang, baby difoto dulu. Sama mama nya, keiko didandanin pake baju yang cantiiikkk dan lucu. Plus topi kupluk hellokitty. Ih, saya jadi kepengen juga. Kayaknya baju yang udah saya siapin buat adek kalah jauh lucu.  Saya pun langsung SMS mama buat bawain baju superrrr lucu buat adek, supaya kalo pas difoto waktu mau pulang juga sama lucunyah.

tick tock tick tock.... semakin sore, saya dan airen justru semakin galau. Terutama saya sih yang tambah terpuruk. Saya pengen secepatnya bawa adek pulang,  udah muak berhari-hari di RS dan semakin nggak tega melihat baby dikurung terus di inkubator.


ini ruang NICU di Perina, alhamdulillah adek nggak masuk disini, tapi ruang NICU ini persiiis banget di depan kamar adek baby, gimana nggak setres kalo tiap hari pemandangannya begini


Persoalan lain pun menggelayut di benak saya. 
Stok asi sudah menipis. 
Saat ini setiap minum baby bisa sampai 30ml, sedangkan hasil pompa saya mentok di 15ml sekali mompa. Nanti gimana dong si adek kalo haus? saya nggak tega... disisi lain saya mau dia tetep mimik asi, karena makanan terbaik buat baby ya asi. 

Donor asi? duh, saya udah nggak enak minta minta asi melulu ke kakak ipar, saya paling nggak bisa terus terusan ngerepotin orang takutnya dia jadi bete sama saya maupun si baby. kesannya kok saya jadi ibu nggak berusaha banget, ngandelin susu dari orang lain. padahal kaaaannn saya udah usaha luar biasa, tapi apa daya ini gentong isinya dikit amat. uffff that just my negative thinking sih. kalo lagi galau begini kan emang pikiran negatif mulu yang mendominasi.

Dalam keadaan kacau balau, saya udah nggak mampu lagi buat nahan air mata biar nggak keluar. Saya sujses nangis di ruang tunggu. Perasaan ini campur aduk. Sedih, bingung, nggak tega, nggak rela.... sampe sampe saya digodain sama susternya. Sebagai penghuni setia perina selama hampir seminggu memang susternya sudah mulai hafal dengan saya. Duh, saya nggak pulang tanpa adek, tapi di sisi lain badan saya sudah drop. Saya kecapekan. Saya harus isturahat.

Jam dinding berdetak cepat. malam semakin pekat. In the end, saya dan Airen balik lagi pada keputusan "apapun yang penting yang terbaik lah buat baby". Which is adalah saran dari dokter supaya baby dijemur lagi. Huffff walaupun saya tetep nggak rela ya sama si dokter. tapi demi kebaika adik baby, insyaallah jalan ini adalah yang terbaik. Dari pihak ortu saya maupun ortu airen sih menyerahkan kepada kami berdua sebagai orangtuanya. 

Terus, untuk stock asi gimana? saya seharian pumpiiiing terus setiap kali ada waktu. Yet, masih gak cukup juga buat adek baby ditinggal sampe besok pagi. Saya kaluuuut banget. Sambil pumping sambil nangis. Saya teken teken terus bagian pabrik asi_nya, tapi udah nggak keluar lagi. Saking stress nya sampe saya remes PD saya kuat kuat hingga lecet. Sepertinya asi saya udah habiiiiis bis bis dan belom produksi lagi sebab sekarang jeda antar pumping saya udah bukan tiap 2 jam tapi berubah jadi cuman tiap 15menit. Padahal saya udah rutin minum air kacang ijo sama makan daun katuk setiap hari. Si air kacang ijo bahkan saya minum dalam satu tarikan napas, biar rasa hambar ampasnya nggak berasa. Saya sungguh frustasi jiwa!

Tidak hanya nggak bisa berhenti menangis, saya juga menjadi emotionally sensitive dan gampang marah. Airen kerap jadi sasaran kemaran saya. Saya kesel kenapa dia nggak bisa berbuat sesuatu supaya adek bisa secepatnya sembuh dan dibawa pulang, atau supaya asi saya biaa terus ngalir kayak keran. deep down inside, saya sebenernya tau kalo he's done his very best. Tapi saya tetep nggak bisa terima sama keadaan ini.

Melihat saya nggak kunjung berhenti menangis, airen juga ikut terbawa kalut dan emosional. kami kemudian saling menyalahkan satu sama lain, perang mulut, sampai dia akhirnya milih ninggalin saya sendirian di ruang pumping. Saya pun semakin terpuruk.

Nggak lama kemudian airen masuk lagi dan berusaha mendinginkan suasana. In the end, dia berhasil mengembalikan pikiran logis saya. Masa' hanya karena keegoisan saya yang memaksa supaya adek tetep dapet asi eksklusif (yang which is i'm pretty sure sebenernya memang adalah yang terbaik ) justru malah mengesampingkan kesehatan baby dan membiarknya dehidrasi. Kami pun akhirnya berserah kepada tuhan. Pembenaran kami adalah toh susu formula bukanlah racun, dan pastinya kandungan yang ada didalamnya juga sudah disesuaikan buat memenuhi kebutuhan baby. Dengan berat hati kami pun menandatangani surat persetujuan pemberian susu formula. Hikssss...maafff ya dekkk... this is for your own good.

Jam 10 malam kami pulang. Sesungguh sungguhnya saya ngak mau pulang kalo tanpa adek. Saya maunya nungguin disini sampe besok. Tapi apa daya, badan saya juga semakin drop. Saya butuh istirahat. Cuuuapek, lelah fisik dan pikiran. Airen maksa saya untuk pulang. Bujuk rayu nya yang paling manjur adalah "yuk pulang...kita bukain kado kadonya si adek". Iya juga yak. that would be fun, langsung semangat! lumayan bisa mengusir rasa galau saya walau sejenak.

Terlebih lagi, setelah hampir seminggu menjadi penghuni ruang perina, saya menjadi yakin bahwa semua suster disini do all their works passionately and wholeheartedly. Beneran. Walaupun jaga malam, tapi mereka melakukannya dengan penuh semangat dan sabaaaaarrrr luar biasa. Yang terpenting: nggak jutek! asli males baget kan ya kalo nemu suster jutek, anak lagi sakit ketemunya suster jutek dijamin dobel dongkolnya. Untungnya disini nggak gitu,  apalagi ngadepin saya seorang new mom yang bodoh ga ngerti apa apa dan panikan. Mereka sungguh telaten ngurus baby. They are truly expert in this field. A thousand way better than me. Inilah yang pada akhirnya membuat saya percaya dan tenang ninggalin adek di RS. Pada hari ini saya baru sadar bahwa I leave her with the expert. jadinya saya tenang.

bye bye for today baby...baik baik ya kamu sama tante suster... see you tomorrow




then we leave and go home.