Showing posts with label bingung puting. Show all posts
Showing posts with label bingung puting. Show all posts

Thursday, March 6, 2014

Konsultasi Laktasi - Klinik Laktasi KMC

Belajar Menyusui dan.... tetek bengeknya

Ini cerita ketika baby gendhis berusia 40 hari.

Kebetulan, hari Rabu itu adalah jadwal saya untuk kontrol dengan dsog pasca melahirkan. Seharusnya sih kontrolnya dua minggu setelah delivery, namun karena baby sempat masuk perina dan kondisi saya yang masih up and down sebagai ibu baru dengan segala drama-nya, akhirnya baru terlaksana sekarang.



Nah, mumpung kontrolnya di KMC, saya sekalian aja daftar buat konsultasi ke klinik laktasi. Buka pukul 08.00 - 20.00 Untuk pendaftaran, seinget saya nggak bisa daftar via telepon, melainkan mendaftar langsung ke meja pendaftaran pada hari H konsultasi.

Ternyata, pasien dsog saya sudah banyak bererot yang hadir, kalau tidak salah saya dapat urutan 10. Sedangkan untuk klinik laktasi, dapat nomor urut 2. Ruangan antara klinik laktasi dan praktek dsog berdekatan, sehingga saya hanya menunggu di sisi sebelah kanan saja untuk mengantri keduanya.

Sayapun selanjutnya dipanggil untuk masuk ke dalam klinik laktasi. Bersama dengan Airen dan mamer. Sengaja saya ajak mamer ikut serta, supaya beliau "terbuka" pikirannya tentang manfaat asi, buruknya dot serta empeng, cara latch on, dan teman temannya.

Permasalahan menyusui yang sedang saya hadapi waktu itu adalah bayi ngempeng puting. Gendhis kalau menyusu lamaaaa sekali, lalu bobo. Tetapi pas nenen nya mau dicopot, eh...dia bangun! lantas nangis dan minta nyusu lagi. Bolak balik seperti itu. Haduuuuh, capek sekali badan saya rasanya. Mana belum bisa mimik sambil tiduran, jadi seringnya saya ikutan tidur namun dalam posisi duduk. Alamak, pegelnyaaa....

Konselor laktasi yang membantu saya ketika itu adalah dr (hmmm.... sebut saja namanya Bunga), berjilbab dan masih muda. Beliau lantas meminta saya untuk menunjukkan bagaimana posisi saya menyusui. Ternyata, latch on yang saya lakukan memang belum sepenuhnya benar. Mulut baby masih kurang "nyaplok" karena di awal dia buka mulut, bukaannya masih kurang mangap, sehingga areola nya belum semua masuk. Sayapun diajarkan tips "mouth tickling" yaitu dengan menempelkan puting kita ke bibir bagian atas baby, untuk merangsang dia membuka mulut dengan lebar. Dan saya juga baru tahu kalau pada saat menyusui sambil duduk, tangan kita yang bawah seharusnya tidak menggenggam dan hanya menopang leher serta badan baby, tetapi jari jari tangan sebaiknya dalam posisi membuka untuk menahan kepala dan leher baby.

Bu dokter juga mengatakan, kemungkinan baby ngempengnya lama adalah karena latch on yang kurang sempurna, sehingga asi yang dikonsumsi tidak maksimal. Bukan karena asi saya kurang. Hoooo... ("Tuh Mam, denger kan kata bu dokter?" ngomong ama mamer dalam hati, nggak berani ngomong langsung, menantu cupu...hihihi)

Selanjutnya, bu dokter mengajarkan posisi menyusui sambil duduk supaya areola bisa masuk ke mulut bayi dengan maksimal. caranya adalah setelah mouth ticking dan mulut bayi membuka lebar, kepala bayi kemudian kita dorong perlahan ke arah PD agar langsung "plek" nyaplok. Posisi bayi pun harus benar benar miring hampir 90derajat dengan paha, sehingga hidungnya tidak terhalang dan bisa bernafad dengan bebas. Hmmmm.... tapi jujur aja nih, cara ini kok agak kurang nyaman ya buat saya, walaupun posisi latch on benar, tetapi proses dorong kepalanya itu agak pushy. Baby nya kok kayak diperlakukan seperti robot. Padahal, menyusui kan supposed to be a natural instinc of human.


Latihan Posisi Menyusui


Setelahnya, saya diajarkan untuk menyusui sambil tiduran. Ternyata, posisi kemiringan badan saya dan baby berpengaruh ke posisi latch on yang maksimal. Miringnya kepala baby harus sejajar dengan posisi miring PD saya agar benar benar dicaplok. kalau dilihat dari proses menyusu, ibu dokter mengatakan tampaknya baby tidak punya masalah dan tidak tongue tie.

 Di dalam ruangan klinik laktasi terdapat sebuah kasur lipat yang empuk berwarna coklat. Kasur inilah yang menjadi alas saya untuk belajar posisi menyusui sambil duduk dan tiduran. Di sebelah kasur, terdapat sofa panjang untuk kami ngobrol. Kalau dilihat, ruangannya tidak terlalu besar. Jauh di depan sofa, ada sebuah wastafel dan baby tafel seperti nursing room pada umumnya. Sebuah meja diletakkan dekat dengan sofa. Meja ini di atasnya terpampang beragam alat peraga yang berhubungan dengan praktek menyusui seperti cup feeder, contoh PD peraga dari plastik, boneka bayi, dll


Cup Feeder (tolong abaikan gumpalan tissue di belakangnya yaa..hehe)



terkait dengan pemberian asip, bu dokter sangat menekannya perlunya menjauhi dot dan empeng karena bisa berakibat bingung puting sehingga bayi menolak nyusu langsung. beliau juga menunjukkan bentuk cup feeder merk medela yang bisa dipakai untuk pengganti dot. tapi well... memang perlu kesabaran yang super extra supaya baby pinter mimik pake cup feeder.

Hmmm sebenarnya sih tidak ada yang salah ya dengan ibu dokter ini, tapi saya merasa kurang sreg aja. karena instead of konsultasi dua arah, yang saya rasakan saat itu justru feeding dan defensif tanpa memberikan solusi real buat masalah saya. emang kalo udah urusan dokter mah cocok cocokan ya bo! lebih ngenesnya lagi, karena konsul bareng mamer... saya jadi merasa di pojokkan, as if saya nggak becus jadi ibu. Diungkapkan lah segala kekurangan saya sampai masalah baby blues. seolah olah mau menunjukkan bahwa beliau sudah sangat expert mengurus bayi, bahkan jika dibandingkan dengan ibu dokternya sendiri. saya dan airen sampai diuji buat gantiin baju dan diapers si baby di depan bu dokter. hikssss.... iya deh maaaaammm #nangisdipojokan

moral of the story adalah tujuannya baik sebenarnya mengajak ibu atau mamer ke dokter laktasi, yaitu agar mereka juga terupdate mengenai pentingnya asi dan menyusui. tapiiiii kalo bisa, sebelum berangkat ke rumah sakit sebaiknya ada pesan2 sponsor dulu ke suami, atau ibu kita sendiri agar tidak mengeluarkan kata kata yang bisa bikin kita melempem. huhuhu...

so, that's it. Nggak terlampau lama sih kami di dalam mungkin sekitar 30 menit-an ya. setelah itu saya lanjut antri untuk ketemu obgyn. alhamdulillah jahitan pasca melahirkan, ukuran rahim dan segala pernak perniknya sudah kembali ke bentuk semula dan tidak ada permasalahan.

Hal yang bikin tercengang justru datang dari bill tagihan konsultasi laktasi. Airen sampe protes ke saya, padahal tadi di dalam cuman gitu gitu doang tapi kok tagihannya sampe lebih dari setengah juta. wakwaoooo!! udah gitu, ternyata pengajaran posisi menyusui dihitung sebagai tindakan. karena posisi menyusui ada yang duduk dan tiduran, dihitung menjadi 2 tindakan. Amsyoooong deh!

kalau tidak salah inget, berikut rinciannya (januari 2013)
- konsultasi 300rb
- tindakan edukasi posisi menyusui 1 135rb
- tindakan edukasi posisi menyusui 2 135rb

mehong ya boooo, emang udah makin komersil yaaaa RS ini... padahal saya suka banget sama suasana dan ambience rumah sakitnya. Nggak heran ada beberapa dokter bagus ada yang hengkang dari RS ini karena alasan tersebut. Diantaranya dr. Purnamawati, dsa yang di banyak forum disebut sebagai dsa recommended.

saya rasa si dokter di Klinik Laktasi yang tadi saya kunjungi juga komersil deh (maap suudzan ya) hahaha prasangka ini bukan tanpa sebab sih. jadi, setelah kelar konsultasi saya minta pin bb bu dokter in case sampai di rumah saya ada pertanyaan tentang laktasi. Namun, dokternya nggak memberikan pin bb, melainkan memasukkan saya ke dalam group bbm berisi pasien pasien beliau. Daaaaaan instead of memberikan informasi seputar asi, yang beliau posting pertama kali setelah saya join adalah rentetan gambar nursing pillow berbagai motif yang menjadi barang dagangan beliau. Yah, jadi males deh! udah kayak ikut temenan bbm grup nya onlineshop ajah.


oh iya, klinik laktasi di KMC ini juga memberikan layanan jasa lainnya yaitu:
- Akupuntur Laktasi 
- Relaktasi
- Konsultasi Toungue Tie & Tindakan Insisi
- dll.


Kemang Medical Care
JL.Ampera Raya No.34
Jakarta 12550
Phone : +6221.27.54.54.54 / +6221.27.54.54.00
Fax : +6221.78.84.35.48
Email : info@kemangmedicalcare.com


Thankies, semoga postingan ini berguna :)

Friday, February 14, 2014

Hantu bernama "Bingung Puting"

Hufff....rasanya berat sekali ketika akan menuliskan part ini. masih terselip seberkas "trauma" di hati saya, karena  kejadian ini sungguh menguras kesabaran dan ber ember ember air mata (mulai lebay...)

Yes, of course it's my mistakes. Please jangan dimarahin ya buibu. Dari jaman kelas prenatal dulu saya udah tau kalo dot itu hukumnya haram se haram haramnya, karena beresiko besar untuk membuat bayi bingung puting! tapiiii.... apalah mau dikata. Karena saya ninggalin si baby sama mertua, saya nggak tega untuk menambah lagi beban beliau dengan harus memberikan asip via media lain selain dot. Terlebih lagi anak saya adalah tipe yang nggak sabaran, kalo nangis pun suaranya cetarrr membahana bikin seluruh dunia panik!






Sebenarnya, Mamer udah pernah saya ajak buat berkunjung ke klinik laktasi nya KMC. Disana kami diberikan penjelasan panjang kali lebar oleh dokter laktasi tentang media yang baik untuk pemberian asip. Saat itu ditegaskan juga bahwa penggunaan dot sangatlah tidak disarankan. Namun.... sinyal sinyal yang saya dapet dari raut muka Mamer begitu keluar dari pintu ruangan klinik adalah: "Mama lebih berpengalaman dari bu dokter, si dokter ini nggak lebih pintar dari mama" ya sud lah.... *sambil manyun* dari pada durhaka, toh saya juga titip anak saya ke beliau, saya berbesar hati untuk memberikan kesempatan dot sebagai pengganti gentong saya.





Demi membuat bayi saya tetap nenen mania, saya kerap memberikan sugesti positif atau istilah kerennya hypnobreastfeeding dengan cara membisikkan kalimat sakti:

"anak cantik, kalau ibun kerja mimiknya dari botol, tapiiii kalo ibun ada di rumah, mimik langsung sama ibun yaaa... mimik nenen ibun itu paliiing enak lho, adek suka mimik ibun yaaa"

Kalimat ini pun diulang ulang terus. 
Alhasil... si bayi dengan gampangnya pindah pindah dari nenen - dot - nenen, bahkan dot nya ikut ganti pigeon - tommee tippee - unimom - pigeon dst... anak pinter! mama bangga! hahaha! *tertawa jumawa*

Tapi kemudian... saat baby Gendhis berusia 5 bulan, saya kena tulah!

Di pagi itu tiba tiba baby Gendhis buang muka pas disuru nenen. Pas saya paksa, dia malah nangis kejer. Tampaknya adek bayi terkesan ketakutan banget pas lihat nenen saya. Loh, kenapa niiiih?!

Nggak hilang akal, saya kemudian berusaha untuk memaksimalkan skin to skin. Saya buka baju, si bayi juga buka baju. Lalu saya sodorkan nenen. Lima detik pertama, Gendhis mau nenen namun setelahnya..... dia pun buang muka lagi, lantas nangis kenceng jejeritan! Sediiiih deh saya

Aduh gustiiiii....

Dulu, pas baca baca pengalaman ibu ibu yang anaknya lagi nursing strike, saya ngerasa mereka berlebihan karena sampe nangis nangis segala. Waktu itu sih saya berfikir "duhh kok lebay amat sih nih emak emak..." and then, when the same things happened to me, I feel like...broken heart! Asli. Rasanya tuh kayak cinta yang bertepuk sebelah tangan... saya cinta, dia enggak!



Dengan penuh kegalauan hati, akhirnya saya berangkat ke kantor. Di atas motor, saya pun meneteskan air mata (buset, drama amat yak. Sama lebay nya nih saya ama emak emak tadi..haha) Saya merasa sebagai ibu paling gagal sedunia, merasa ditinggalkan. Yang bergelayutan di kepala saya waktu itu adalah pertanyaan  "terus gimana kalo adek bayi nggak mau mimik langsung sama saya lagi?"  Panik sekaligus putus asa. Saya belum siap kalo harus weaning. Hiks!



Di kantor, saya pun curhat dengan teman saya si @prikitiwww via YM. Ternyata, baby nya juga dulu pernah terindikasi bingung puting "pertama, lo harus tenang, jangan panik!" ujarnya memberikan solusi. "coba skin to skin, trus kalo bisa lo pulang tenggo, dan begitu sampe rumah langsung nenenin, bahkan kalo perlu lo ambil cuti buat maksimalin skin to skin nya"  okeh, noted! saya catet baik baik nasihat si tiwiw di kepala.

Saya pun browsing sana sini tentang si hantu "bingung puting" ini.

Teman saya lainnya, si Farah, juga ternyata pernah mengalami hal serupa "dicobain nenen terus aja... ntar juga mau kok. anak gue juga dulu kayak gitu" jelasnya. "terus abis bingput gitu anak lo tetep dikasi dot ga? ato dot nya diganti?" tanya saya kepo. "tetep ngedot, dan pake dot yang sama kok...." ooohhh baiklahhh...

Saya juga meminta airen buat beli nipple dot pigeon yang kuning, pigeon yang peristaltik, dan huki. sebab kata temannya Airen, si Nisa, anaknya pakai dot tersebut dan sudah 9 bulan nggak pernah bingung puting.

Sampai rumah, kembali saya "berjuang" buat nenenin. selama saya tinggal ke kantor tadi Gendhis mimik banyak via dot. Kemungkinan, bayi merasa lebih nyaman mimik dot karena alirannya yang stabil.

Dan... kejadian yang sama kembali terulang. Sepersekian detik si bayi mau mimik langsung sama saya, tapi kemudian dilepeh! Kalo kata mamer, bisa jadi karena memang saat ini dia sudah gampang ter distract oleh suara suara, sehingga kalo lagi mimik, denger ada bunyi lagu langsung noleh dan nyopot nenen.

Sambil berurai air mata, saya berusaha lagi buat skin to skin. Saya juga membisikkan kata kata positif " yuk nenen ibun yuk, mimik ibun enak lhooo...adek suka mimik ibun" berulang ulang tanpa bosan. Dan perlakuan yang saya terima tetap sama, adek bayi jejeritan tiap lihat nenen. Nolak mentah mentah!

Malam pun semakin larut, baby Gendhis nggak bisa bobo. Mungkin karena sebenernya dia haus, tapi nggak mau nenen langsung. Karena saya kekeuh si adek harus nenen saya, say pikir kalau dia udah ngantuk...pasti nggak nolak nenen. Namun ternyata salah. Akhirnya, saya pun nggak tega, dan pasrah pas adek dikasi dot. lalu dia pun tertidur nyenyaaaak banget. hufff #lapkeringet

Seperti biasa, tengah malam adek terbangun, mungkin karena masih ngatuk dan belom sadar bener, dia pasrah aja saya sumpel nenenin langsung. Yeayyy!!! legaaaa.....rasanya....#boboksambilsenyum

Namun, ketika pagi datang, kejadian nursing strike pun kembali lagi.
alamaaaakkkkk...tidaaakkk!!!

Terpaksa saya putuskan untuk nggak masuk kantor. Saya kekeuh untuk terus mencoba skin to skin walaupun si bayi berontak. Kebetulan hari itu ibu saya dateng buat menjemput (maklum nggak punya mbak, jadi senin rabu baby gendhis diasuh mamer, kamis jumat diasuh ibu saya) Melihat saya yang frustasi, ibu saya menawarkan supaya si bayi dibawa ke mbah pijit aja. Karena sudah banyak gerak, mungkin ada bagian tubuhnya yang keseleo, sehingga dia nggak nyaman saat mimik langsung. sayapun nggak menolak.

Setelah dipijit, kemungkinan karena saking haus nya dan badan juga udah rada enakkan serta saya yang posesif buat maksa dia nenen langsung terus, alhamdulillahhh.... baby gendhis mau nenen lagi. Kali ini tanpa perlawanan. Untungnya, besok udah weekend, jadi full saya bisa fokus supaya adek nenen langsung.

Alhamdulillah.... sampai sekarang usia 13 bulan, baby gendhis nggak bingung puting lagi (jangan sampe deeeeh, ketok ketok meja). Selama saya kerja, Gendhis masih mimik dari dot (ya, saya tetep nggak tega buat nyuruh mamer make cup feeder, karena pasti menambah kerepotan beliau, saya cukup tahu diri untuk ini... takut dianggep "udah nitipin anak kok minta macem macem"). Dot nya masih pake tommee tippee dan masih pake level 1 yang lubangnya kecil. Sengaja nggak saya naikin level dot nya (makin besar anak, harusnya makin lebar juga lubang dot nya) supaya dia tetap merasa bahwa nenen langsung lebih nikmat karena aliran susunya lebih kenceng dan banyak.




Jadi, berdasarkan pengalaman saya, buat mommies yang ngalamin hal serupa, ini tips yang saya lakukan dan sudah saya buktikan ampuh:

  1. Jangan panik, berdoa terus, banyakin stok sabar (dimana ya yang jualan stok sabar? yuk kita borong!)
  2. Ambil cuti sehari (kalo bisa sih hari jumat, jadi bisa nyambung sampe weekend dan full skin to skin dan latian nenen terussss)
  3. Coba tawarkan nenen langsung ketika bayi sudah sangat mengantuk....
  4. Berikan selalu sugesti positif tanpa kenal lelah ke bayi "yuk nenen langsung sama ibun, nenen ibun paling enaaaaak sedunia, adek baby suka mimik ibun" 
  5. Coba berikan pijatan yang menyamankan bayi, karena sudah mulai banyak gerak, siapa tahu ada bagian atau posisi tertentu yang baby nggak nyaman
  6. Sebisa mungkin, setelah bayi mau nenen lagi, berikan asip di media selain dot. 
  7. Tetapi kalau posisinya seperti saya, dalam kasus saya ini karena beberapa pertimbangan terpaksa tetep memberikan asip via dot, I have no other wise option. Jangan mengganti level nipple dot mengikuti usia baby. Tetap berikan level newborn aja, sehingga bayi akan lebih suka nenen dibanding dot karena alirannya lebih mantap..hehehe
  8. Usahakan selama masa "pengembalian" ini pulang kantor teng go, dan sampe rumah, mandi, langsung nenenin
  9. Percaya bahwa bayi akan balik nenen lagi. Jangan menyerah dan tetap berusaha yaaaa... it takes time, indeed. Emang nggak instant sih, tapi pasti berhasil kok!

Good luck mommies...